YANG KITA MAKAN MENENTUKAN NASIB KESEHATAN KITA

Dr Handrawan Nadesul | Corona

Kemarin WHO menetapkan Hari Kesehatan Sedunia 2022, dengan tema Makanan Aman (food safety). Keprihatinan dunia yang sudah lama, tapi belum semua negara menaruh perhatian penuh untuk menyelamatkan warga bangsanya. Termasuk kita.
WHO sudah lama membuat panduan makanan yang tidak aman. Di antaranya, semua menu olahan (refined diet) tidak lebih menyehatkan dibanding menu alami. Semua daging olahan, ham, burger, sosis, dan sejenis itu, tidak sehat. Fakta di depan kita generasi millenial cenderung suka jenis menu seperti itu. Bisa kita hitung akan bagaimana risiko penyakit yang bakal dipikulnya.

Bukan cuma jenis makanan dan minumannya, terlebih seberap besar porsi makannya. Makanan yang masih aman menjadi penyakit bila dikonsumsi berlebihan. Lemak dan daging, misalnya, mencetuskan kanker bila dimakan berlebihan.
Resto AYCE, bikin kita rakus makan mumpung bebas tak mau rugi. Asupan daging melebihi batas berisiko kanker. Kalau itu jadi kebiasaan, berlangsung selama bertahun-tahun, di depan nanti kejadian terkena kanker sudah menghadang.
Jenis makanan tidak aman itu terbanyak kimiawi tambahan dalam makanan atau food additive. Industri makanan dunia menciptakan ratusan bahan kimia stiap tahunnya untuk makanan dan minuman, termasuk pemanis buatan, dan wadah kemasan makanan-minuman.

Di kita hampir semua jajanan, maupun produk makanan industri, nyaris yang tanpa tambahan bahan kimia. Tidak semua bahan kimia yang dipakai aman, lebih banyak yang tidak aman. Pengawet, pewarna, penyedap, pemanis buatan, dan bahan kimia untuk adonan, bubur ayam, cincau, bahkan mie instan, serta ramen, bukan tanpa bahaya. Lihat sirop, saus tomat, saus cabai, bahkan di Jakarta yang dekat Badan POM sekalipun, masih banyak industri rumahan memakai bahan kimia berbahaya yang luput dari pengawasan. Jenis jajanan murah, yang menjadi korban anak sekolah, masyarakat bawah, yang jajanannya hampir pasti tidak menyehatkan, kalau bukan tidak aman.

Tidak aman bukan saja dari sisi kimiawi yang dicampurkan dalam makanan-minuman, melainkan juga cara penyajian, apakah tidak tercemar bibit penyakit. Diare sebab infeksi masih terbilang tinggi di kita, dan itu masuk akal kalau melihat kelompok penjaja buah dingin, bakso, es dawet, jamu gendong, sumber airnya, misal, tercemar air sungai, atau air limbah saat memperisapkan dan menyajikannya. Perhatikan air pencuci piring mangkukn gelasnya. Ini tidak aman untuk jangka pendek.

Lebih mengerikan yang tidak aman jangka panjang, karena bahan kimia dalam makanan dan minuman bersifat asing bagi tubuh, dan merusak sel, memunculkan risiko kanker bila dikonusmsi untuk waktu lama. Jajanan anak sekolah, minumannya, yang kebanyakan dicampur air mentah, juga kebanyakan jamu gendong, dalam kecap juga, selain dalam bakso, dan minyak yang dipakai dalam gorengan, belum tentu semuanya aman. Masyarakat bawah berisiko sama.

Mana mungkin ada saus tomat bila betul asli tomat, harga sebotolnya cuma berapa ribu rupiah, kalau bukan isinya ubi dan cukak dan pewarna tekstil berbahaya rhomadmine-B. Pewarna tekstil dipilih karena lebih murah dari pewarna makanan. Bertahun-tahun mengonsumsi pewarna tekstil, dalam hitungan puluhan tahun berisiko mencetuskan kanker. Termasuk pewarna yang sama untuk lipstik murah.

Yang sering ditemukan, pemanis buatan kimia dalam hampir semua jajanan yang tidak aman, karena lebih murah dari gula pasir. Hanya pemanis buatan terbuat dari daun stevia yang dinilai aman, yang lainnya sebaiklnya dijauhi. Tapi sampai sekarang hampir semua industri makanan rumahan masih memakai yang tidak aman itu.

Pengawet bakso, tahu, ikan laut, ayam potong, belum semuanya terbebas dari pengawet yang aman. Formalin, boraks, masih ditemukan, sama tidak menyehatkan kalau bukan tidak amanbagi kesehatan.

Belum semua bahan kimia yang dimasukkan ke dalam makanan-minuman, terkuak aman. Yang sekarang dinilai aman, belum tentu di kemudian hari. Sikap kita seberapa bisa tidak memilih segala sesuatu dengan campuran bahan kimia. Pilih yang alami.

Memang tidak mudah memilih yang murni alami. Telur ayam kampung belum tentu sepenuhnya alami. Pakannya buatan tangan manusia. Dan banyak produk man-made yang membuat makanan-minuman kita menjadi tidak aman. Termasuk higiene penyaji warung nasi, penjaja, maupun resto kita yang belum sepenuhnya steril, punya komitmen bersucihama. Habis makan di luar lalu mencret, hampir pasti jelek higiene makanan-minumannya, atau sebab kebersihan penyajinya, atau pembuat makanan-minumannya, food-handler-nya.

Hampir semua wadah masakan resto yang serba panas dikemas dalam wadah plastik dan sejenisnya yang tidak semua plastik yang tergolong aman. Demikian pula plastik kemasan makanan dan minuman, yang sekali pakai buang, tidak boleh dipakai ulang.

Bahan plastik tertentu yang bila terkena panas, meracuni masakan panas yang dikemasnya. Kuah bakso, dlam plastik kemasannya, misalnya. Jangan sampai hanya karena plastik berisiko kanker, itu terjadi menimpa kita.

Plastik hitam dengan aroma menyengat, juga mestinya tak layak pakai. Cerita ada tukang gorengan memasukkan plastik ke minyak panas dengan maksud supaya gorengannya garing, cara lain bikin jajanan menjadi tidak aman. Minyak goreng bekas resto ayam goreng dipakai penjual gorengan pinggir jalan, cara lain membahayakan kesehatan kita bila mengonsumsinya karena inyak jelantah berisiko mencetuskan kanker juga.

Bahan baku sayur mayur, bebuahan, yang diproduksi secara GMO (genetic modifiied organism) atau rekayasa genetik. Ditemukan kejadian tumor pada tikus bila divberi konsumsi bahan produk GMO. Di negara lain, semua produk GMO diberi label khusus GMO, sehingga konsumen tahu untuk tidak memilihnya. Tidak di kita. Kita tidak tahu produk GMO. Patokannya kalau ada wortel, lobak, selderi, atau semua produk sayur-mayur yang ukurannya besar, hampir pasti bukan alami. Juga bebuahan. Wotel alami itu setelunjuk besarnya bukan selengan bayi.

Maka ada gerakan slow food, gerakan kembali ke alam, memilih sumber makanan organik, gaya hidup kembali ke alam. Menanam cara organik, tanpa pupuk tanpa pestisida. Pupuk dan pestisida yang menumpuk dalam tubuh, juga mencetuskan kanker juga. Tak ubahnya logam berat merkuri (Hg) dalam ikan tercemat air laut. Termasuk jahatnya gula pasir, terigu, yang tidak lebih sehat dari air tebu dan gandum. Maka pilih ubi rebus bukan donat. Pilih ikan laut dalam bukan naget. Pilih madu bukan gula pasir.

Kita memaklumi tangan pemerintah, Badan BPOM khususnya, perlu tangan yang anjang untuk menjangkau wilayah seluas Indonesia. Tidak mungkin melakukan pengawasan terhadap industri makanan-minuman rumahan.

Saya berpikir, masyarakatnya yang perlu dibuat cerdas memilih makanan-minuman menyehatkan. Pendidikan kesehatan sekolah memuat kurikulm kesehatan yang mencakup pengetahuan makanan-minuman.

Maka dulu seaktu saya memegang Puskesmas, saya membentuk Program Dokter Kecil dulu sebagai kader kesehatan sekolah yang mengajarkan semua temannya cerdas memilih makanan minuman aman. Proyek Dokter Kecil yang saya bangun sekotamadya Bogor tahun 1982, diadopsi PT Unilever, Lifebuoy dalam hal ini untuk mencetak kader kesehatan sekolah lewat Program Dokter Kecil di beberapa Provinsi. Saya keliling beberapa Provinsi, mengajarkan Guru-guru sekolah untuk menyuluh anak didik di sekolahnya untuk menjadi kader kesehatan sekolah.

Sikap kita, kembali ke pilihan menu nenek moyang. Bahwa kesehatan itu ada di dapur kita, bukan di restoran. Ini cara mudah menyelamatkan nasib buruk kesehatan kita ke depan.

Ini semua yang saya bahas dalam seminar saya Sehat Itu Murah selama ini.

Salam sehat,

Dr HANDRAWAN NADESUL


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]
%d bloggers like this: