“Cukup menulis selama lima belas menit per hari, selama empat sampai lima hari, bisa mengatasi depresi!” demikian antara lain saran James W. Pennerbaker dalam buku yang ditulisnya berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotion. “ Jika Anda mengalami kesulitan melalukan itu, mulailah menulis sedikit demi sedikit. Kata, demi kata. Tulis apa saja yang Anda bisa – untuk mengurangi depresi yang menekan jiwa Anda.” Tegasnya.
Pennebaker, kelahiran 2 Maret 1950 di Midlnad Texas – AS, adalah seorang psikolog dan ahli bahasa, dikenal sebagai pelopor terapi jiwa melalui kegiatan menulis. Ia mensosialisasikan program ini pada tahun 1975, setelah melakukan serangkaian creative writing workshop untuk pasien-pasiennya yang dibelenggu frustasi, depresi, berbagai trauma fisik-psikis, amnesia, autis dan kerusakan sistem syaraf otak. Hasilnya luar biasa. Ternyata kegiatan menulis yang fokus pada life-writing itu mampu mengatasi berbagai problema tersebut.
Life writing adalah kegiatan menulis untuk terapi. Tujuannya, semata-mata untuk melepas tekanan dan sekaligus untuk menyenangkan hati serta mencerahkan jiwa yang berada dalam kegelapan. Jadi, aturan teori menulis tidak terlalu ditekankan. Begitu juga bentuk tulisannya bisa fiksi atau nonfiksi, bahkan gabungan keduanya juga tidak masalah. Pennebaker menekankan, “Yang penting menulislah dengan jujur dan terbuka tentang perasaan terdalam Anda. Jika itu belum mampu, rekam dengan tape recorder atau camera video. Kemudian, putar dan tulis sedikit demi sedikit. Jangan khawatir tentang tatabahasa atau ejaan, atau berharap mendapatkan sesuatu dengan benar. Hanya menulis – itu saja!”
Tapi, John Mulligan yang berdarah Skotlandia – veteran Perang Vietnam yang mengalami trauma fisik dan psikis sangat berat sekembalinya dari Vietnam, melakukan life-writing as therapeutic begitu cemerlang. Ia tidak hanya mampu mengatasi depresinya, akan tetapi juga mampu menulis novel laris, bernilai sastra tinggi. Novelnya berjudul Shopping Cart Soldier tahun 1997, bersumber dari kisah nyata perang Vietnam yang membuatnya jadi pembunuh tanpa rasa, tanpa jiwa. Tidak hanya membunuh ribuan manusia, tapi juga kerbau-kerbau, yang keduanya tak berdosa.
Novel ini menceritakan tentang pengalaman mengerikan seorang tentara selama bertugas di garis depan medan perang Vietnam . Setelah ia menjadi veteran, berubah menjadi sosok pria depresi berat. Ia jadi pencandu alkohol dan homeless selama 10 tahun hidup menggelandang di jalan-jalan di San Fransisco. Ia menemukan kedamaian dalam dirinya setelah mengikuti life-writing as therapeutic workshop yang dimentori Maxine Hong Kingston, pengarang dan ahli bahasa ternama di AS. “Kegiatan menulis benar-benar mampu membuatnya kembali ceria, bersiul-siul, melompat-lompat – karena proses menulis membuat pikirannya jernih dan menyalakan semangat hidupnya.” – demikian kesaksian putri Mulligan.
Setelah sukses dengan novelnya yang berjudul Shopping Cart Soldier, Mulligan lalu menulis beberapa cerpen dan novel. Sayang, sebelum naskah-naskah yang ditulisnya itu terselesaikan dengan sempurna, ia tertabrak mobil dan meninggal 12 Oktober 2005. Novel Shopping Cart Soldier dapat menghargaan Pen-Oakland Sastra. “Belum pernah ada novel yang menyampaikan kebenaran mistis perang, kecuali yang ditulis Mulligan. Narasinya begitu hidup, mampu melukiskan seorang pembunuh tanpa jiwa, tapi juga menyampaikan pikiran cemerlang dan ekspresif seorang perempuan muda Vietnam dalam menyikapi perang Vietnam yang membuat orang mati rasa.” Demikian antara lain penilaian Maxine Hong Kingston, mengenai novel Mulligan yang sangat menyentuh.
(Sumber: Buku Writing for Therapy, Naning Pranoto – Penerbit: Pustaka Obor, Jakarta)