Prof. Dr. Emil Salim: Power Brain, Bunga Silaturahmi

Gaya Hidup Sehat


Silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

*

          Ya, kami menulis tentang indahnya merajut benang-benang silaturahmi, dibuka dengan bait-bait Sabda Kanjeng Nabi. Prof. Dr. Emil Salim mengamalkan sabda tersebut dengan sepenuh hati dan itu membuatnya bahagia serta panjang umur. Bahkan ia juga masih sangat produktif dalam usia 89 tahun 8 Juni 2019 mendatang. Selain mengajar, menjadi pembicara dalam berbagai seminar ia juga aktif menulis makalah, artikel dan buku. Tiap akhir pekan berbagai kegiatannya itu ia liburkan karena punya program yang dianggapnya sangat penting  untuk menjaga kesehatan jiwa maupun raganya. Selain berolahraga berjalan kaki, ia bersilaturahmi  mengunjungi para sahabatnya.

“Sungguh menyenangkan bertemu dengan teman-teman, membuat kita tetap semangat.” Tutur Prof. Emil Salim di kediaman di wilayah Patra Kuningan. “ Biasanya, selain ngobrol santai bernostalgia, saya ajak mereka menulis buku. Di antara mereka ada  mantan Duta Besar, saya dorong menuliskan pengalamannya. Karena menulis itu untuk mempertahankan power brain – daya pikir. Biar tidak loyo.” Sambungnya semangat, wajahnya ceria. “Tentu saja, orang yang menulis perlu membaca berbagai referensi. Saya pribadi, untuk mencari referensi selain membaca buku juga aktif akses internet agar tetap aktual. Pada saat silaturahmi saya juga  ajak teman-teman menjadi pribadi yang aktual, biar hidup tidak monoton.  Perkembangan teknologi harus kita ikuti, tanpa mengenal usia.” Tegasnya.

Biasanya, seusai silaturahmi ia mengunjungi tempat-tempat yang membuatnya bergembira. “Saya kan lama tinggal di Bogor. Nah, saya sering ke Bogor dan makan makanan kesukaan saya,” ia tertawa. Makanan yang dimaksud adalah toge goreng yang ia sebut toge gebrok karena yang jualan suka menggebrok-nggebrok gerobaknya kala memasak dagangannya.

Toge Goreng merupakan makasan unik dan klasik,  hanya terdapat di Bogor. Jika ditemukan di pinggiran-pinggiran Jakarta, makanan serupa itu disebut Toge Goreng Betawi (Betawi – dari kata Batavia yang dilafalkan lidah penduduk setempat adalah kota Jakarta Tempo Dulu). Tapi cita-rasa dan  bahannya sedikit berbeda. Toge Goreng Betawi diperkirakan ‘contekan’ dari Toge Goreng Bogor, dampak terjadinya  akulturasi antara Budaya Bogor dan Betawi.

Toge Goreng: kata  ‘goreng’  memberi isyarat bahwa toge (bahasa Sunda)  – maksudnya taoge atau kecambah dalam bahasa Indonesia,   dimasak dengan minyak. Tapi kenyataannya taoge yang dimasak justru direbus dalam tempayan dengan api tidak terlalu panas untuk menjaga kesegarannya. Bahan saosnya terdiri dari paduan taoco dan oncom. Taoco, dibuat dari bahan dasar kedelai (Glycine max). Oncom merah  dibuat dari bahan dasar bungkil  kedelai dan oncom hitam dibuat dari  bungkil kacang tanah (Arachis hypogaea L).

“Toge goreng itu makanan saya. Selain harganya murah juga bergizi.  Waktu saya studi di Bogor, sebagai mahasiswa uang saya terbatas.  Untuk memenuhi menu saya ya makan toge goreng. Sampai sekarang saya masih tetap suka!” tuturnya sambil tertawa, matanya berbinar-binar. Maka lidahnya sering ‘kangen’ menikmati toge goreng dan ia pun bersilaturahmi ke kedai toge goreng yang telah puluhan tahun jadi langganannya. “Sekarang yang jualan anaknya! Tapi masakannya tetap enak kok.” pungkasnya. (NP)


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]