PERUBAHAN DI TENGAH KENYAMANAN: Tidak Ada Rintangan yang Amerta

Grace Valencia Meliala

OPINI Oleh Grace Valencia Meliala

Tidak bisa dipungkiri lagi, semasa pandemi terjadi perubahan-perubahan drastis. Perubahan sering kali diasosiasikan sebagai hal yang membuat sesak, terutama karena rumitnya beradaptasi. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, transisi dari luring ke daring tidaklah mudah, khususnya jika bersamaan dengan perubahan jenjang pendidikan. Maka, pemahaman tidak ada rintangan yang amerta adalah sesutau yang harus dihidupi. Walau Virus Corona telah merenggut banyak nyawa, waktu, dan pelajaran hidup, sudah sewajarnya kita tetap tabah. Beradaptasi, belajar, dan bertumbuh dari pengalaman, hendaknya terus dilakukan.

Linimasa Pemicu Perubahan

Bersamaan dengan memuncaknya Virus Korona, penulis tamat jenjang SD. Pada saat artikel ini ditulis, penulis sedang duduk di bangku kelas 2 SMP. Dalam jangka waktu tiga tahun terakhir, banyak sekali perubahan yang terjadi. Pada saat sekolah mengumumkan kali pertama diselenggarakan pembelajaran luring pada akhir Febuari 2020, penulis duduk di bangku kelas V SD. Bagi seorang anak yang belum menginjak usia 12 tahun, perubahan sedrastis tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Para siswa harus benar-benar belajar: mengatur waktu, membangun disiplin, serta memotivasi diri sendiri untuk mengikuti pembelajaran, meskipun dari rumah.

Setelah melewati hari-hari yang dipenuhi kesulitan, penulis akhirnya lulus SD tanggal 4 Juni 2021. Memang benar, ia telah menyelesaikan salah satu tonggak dalam kehidupannya, namun itu hanyalah permulaan dari berbagai tantangan lainnya. Pada tanggal 21 Juli 2021, hari pertama masuk bangku SMP pun tiba. Setelah sekitar satu tahun melakukan pembelajaran daring, hari pertama bersekolah sudah tidak lagi menyenangkan dan menegangkan seperti masa pra-virus. Walau bahagia, rasa antusiasme yang menggebu-gebu tak lagi dapat dirasakan.

Dua bulan pun berlalu, banyak sekali siswa yang sudah sangat nyaman dengan adanya pembelajaran daring. Secara tiba-tiba, kepala sekolah mengumumkan bahwa Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) akan kembali dilaksanakan mulai 21 September 2021. Mendengar kabar tersebut, perasaan tiap siswa tentunya campur aduk. Bagi yang sudah nyaman, pengumuman PTMT bagaikan mimpi buruk. Sebaliknya, pengumuman tersebut bak mukjizat bagi siswa yang terkendala dalam proses pembelajaran daring.

Tanpa disadari, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Gerbang sekolah terbuka lebar. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, area sekolah kembali dipenuhi tawa dan senyum hangat para siswa. Sayangnya, euforia tersebut tidak berlangsung lama. Pada hari yang ke-10 bulan Desember, kepala sekolah mengumumkan, pembelajaran daring akan kembali dilaksanakan karena meningkatnya kasus Covid. Lagi dan lagi, para siswa-siswi diharapkan untuk beradaptasi pada perubahan drastis yang terus-menerus terjadi.

Semenjak 10 Desember 2021, menurut pengamatan penulis, jumlah siswa yang nyaman dengan pembelajaran daring semakin berkurang. Hal itu terjadi setelah mereka merasakan betapa menyenangkannya pembelajaran luring dibanding daring. Hampir seluruh siswa kecewa saat membaca pengumuman bahwa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akan kembali dilaksanakan untuk meminimalisasi adanya peningkatan penularan Virus Corona yang drastis di area sekolah. Tanpa disadari, tiga bulan pun berlalu. Akhirnya, pada tanggal 28 Maret 2022, PJJ kembali ditiadakan dan siswa dapat menjalani PTMT.

Tepat pada tanggal 16 Juni 2022, penulis memasuki kelas I SMP secara luring. Untuk selanjutnya, sekolah sudah tidak pernah lagi menerapkan sistem PJJ.

Bagi siswa SD yang harus diwisuda secara daring, pengalaman belajar secara luring sangatlah berharga. Jujur saja, awalnya penulis jarang sekali menghargai dan menyadari betapa beruntungnya ia dalam memiliki kesempatan untuk bersekolah. Sementara itu, cukup banyak anak yang kurang beruntung, terpaksa ikut membantu orangtuanya mencari nafkah. Melalui pengalaman belajar secara daring inilah penulis disadarkan betapa beruntung dirinya itu. Dari situlah penulis dapat belajar, bahwa dalam masa-masa gelap sekalipun, pada akhirnya pasti saja ada esensi positif yang dapat diambil sebagai pembelajaran.

Perubahan Konstan dalam Sistem Pembelajaran

Selain siswa, guru-guru juga harus beradaptasi, guna mempertimbangkan pembelajaran luring. Pihak sekolah juga harus dengan sangat detil mempertimbangkan sistem pembelajaran yang dapat menguntungkan tiap siswa maupun guru. Salah satu contohnya, pemilihan aplikasi yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan pengalaman pribadi penulis, pada awal pembelajaran luring, aplikasi yang dipilih untuk pembelajaran sempat beberapa kali berubah. Sekitar bulan Febuari 2020, sekolah ‘menetapkan’ siswa untuk menggunakan Skype for Business. Tak lama kemudian, diubah menjadi Zoom, lalu Google Classroom, dan terakhir Microsoft Teams. Memang benar, seorang penulis bernama Byron Pulsifer pernah mengatakan, “Beradaptasi berarti bergerak maju”. Pada saat yang bersamaan, perubahan-perubahan konstan seperti ini tentunya merupakan tembok tinggi yang memisahkan siswa maupun guru yang terkendala dalam beradaptasi dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Terkait penerapan aplikasi, menurut penulis, salah satu aplikasi yang paling nyaman untuk digunakan adalah Microsoft Teams. Kualitas video, audio, serta fitur-fiturnya sangat memadai. Siswa dapat dengan mudah mengakses tugas-tugas, serta melacak kegiatan harian pada fitur calendar. Selain itu, ruang kelas juga dapat dibuat secara virtual menggunakan fitur channels. Nilai para siswa-siswi juga dapat diakses setiap harinya dengan cara mempergunakan fitur grades, dan lain-lain. Itulah sebabnya Microsoft Teams merupakan aplikasi pembelajaran yang sangat membantu dan berguna bagi penulis maupun para siswa-siswi. Sebaliknya, ada kemungkinan aplikasi yang sama dapat menyulitkan para guru dalam kegiatan mengajar. Efisiensi merupakan kunci dari produktivitas. Dari sudut pandang guru, Zoom merupakan aplikasi pembelajaran yang paling efisien, karena para pengajar hanya butuh login dan memulai rapat.

Tahapan Beradaptasi

Menurut pengamatan penulis, serangkaian perubahan pada umumnya menimbulkan rasa khawatir, gelisah, takut, dan cemas bagi pelajar. Semasa pandemi, tidak semua orang memiliki fasilitas yang memadai untuk pembelajaran daring. Jika dibandingkan dengan teman-temannya, penulis sangatlah beruntung. Ia difasilitasi orangtuanya dengan perangkat belajar dan koneksi internet yang memadai sejak awal pembelajaran luring. Pada awalnya, penulis hanya menggunakan handphone untuk mengikuti pembelajaran, namun sejak naik ke jenjang SMP, orangtuanya menyediakan tablet dan laptop.

Dengan adanya perangkat yang memadai, juga merupakan hal yang krusial dalam tahapan beradaptasi bagi siswa-siswi. Keteguhan dalam menghadapi perubahan harus disertai dengan fasilitas yang memadai. Selain itu, adaptasi juga harus didukung dengan pola pikir yang terbuka terhadap perubahan. Empati terhadap mereka yang tidak begitu beruntung semasa pandemi sudah pasti dirasakan. Oleh sebab itulah privilege beserta pola pikir positif memainkan peran penting dalam menghadapi perubahan setelah pandemi. Pada dasarnya, proses adaptasi akan berbeda pada tiap individu.

Strategi Menghadapi Perubahan

Telah terbukti kehidupan tanpa perubahan merupakan kehidupan yang ‘diam di tempat’. Maka, rencana yang strategis sangat penting dalam menghadapi perubahan yang signifikan dalam kehidupan. Secara pribadi, penulis menghadapi dan mengatasi perubahan dengan cara melihat ke depan. Era daring secara tidak langsung menguji kemampuan self-control tiap orang. Itu sebabnya penting bagi tiap orang untuk bersedia berubah, karena hidup tidak akan selalu sama.

Di luar konteks pembelajaran, perubahan dalam kehidupan juga sering terjadi, baik itu perubahan signifikan maupun minor. Jika tidak terbuka terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupan, ada kemungkinan besar banyak peluang akan hilang. Contohnya, jika seseorang diberi beasiswa untuk bersekolah di luar negeri dan menolak untuk beradaptasi terhadap lingkungan baru, maka sama saja dengan membuang emas ke dalam sumur.

Adaptasi untuk Mewujudkan Masa Depan

Di kemudian hari, bisa dipastikan ada banyak perubahan lain. Itu sebabnya kita harus memaknai satu kutipan dari Theodore Roosevelt, yang berbunyi, “Tidak akan ada kehidupan tanpa perubahan, dan takut akan apa yang berbeda atau asing berarti takut akan kehidupan”. Perubahan memanglah tidak nyaman, menakutkan, bahkan menantang. Itulah keindahan dari kehidupan. Tak ada tantangan yang amerta. Itu sebabnya adaptasi adalah kunci dari kehidupan. Siapa pun yang tidak bisa menyesuaikan diri pada situasi di sekitarnya, akan kesulitan dalam kehidupan. Sudah sewajibnya kita terbuka untuk menghadapi perubahan, menerima perubahan tersebut, dan beradaptasi*.

PERSONAL BRANDING GRACE VALENCIA MELIALA

Grace Valencia Meliala merupakan remaja berusia 14 tahun yang tak sekalipun pernah merasa kesepian, meski ia anak tunggal. Ia gemar berbicara dan membaca sejak kecil. Ia senang berbagi dengan orang-orang di sekitarnya, baik itu melalui media komunikasi maupun tulisan.

Di sekolah, gadis yang tak kunjung berhenti berbicara itu kini sedang menjabat sebagai ketua OSIS. Sebuah kewajiban dan tanggung jawab disandangnya, maka secara tidak langsung menguji kemampuannya untuk membagi waktu dalam memimpin serta melaksanakan hobinya. Selain itu, kegiatan ekstra kurikuler English Literature gemar diikuti remaja yang berdisiplin dalam mengelola waktu ini.

Grace memang seorang siswa yang dijadikan panutan di sekolah. Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik, dan belajar dari kesalahan atau kegagalan yang ia alami. Itulah sebabnya sejak pandemi, ia lebih lagi mendalami seni menulis agar dapat membagi hal-hal yang menarik baginya kepada lingkungan sekitarnya dengan lebih luas.

Diterbitkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Error: Contact form not found.