Peran Matahari Terhadap COVID-19

Dr Handrawan Nadesul | Corona

Ada 3 jenis ultraviolet (UV) yang diberi matahari: UVA, UVB dan UVC. Lupakan yang UVC, karena tidak menyentuh kita di bumi. UVA dan UVB yang tiba di bumi. Sejatinya keduanya sama-sama berpengaruh buruk terhadap tubuh, khususnya kulit. Namun di balik keburukannya, ada sisi manfaat bila kita benar memanfaatkannya. Kita butuh keduanya untuk pembentukan vitamin D, tulang dan otot, terapi penyakit kulit (psoriasis), dan meningkatkan sistem imun.

Peran Matahari Terhadap COVID-19
Peran UVA dan UVB terhadap manfaat kesehatannya.

Dulu dianggap matahari pagi sebelum pukul 10.00 yang menyehatkan. Kini kita mengejar manfaat UVB lebih dari UVA. Panjang gelombang UVA lebih dibanding UVB, yang menembus lapisan kulit dalam (dermis) sedang UVB hanya sampai lapisan atas epidermis, maka lebih kurang merusak kulit. Tapi terpapar lama seperti yang pingin kulitnya lebih gelap (suntan), UVA maupun UVB sama-sama buruknya: bikin kulit cepat menua, lekas keriput, dan bikin kanker kulit, selain melemahkan sistem imun kalau terpapar berlebihan (Immune system suppression). Selain menembus kulit lebih dalam, kekuatan ratusan kali lebih kuat dari UVB, UVA bisa menembus kaca.

Pengaruh UV terhadap tubuh ditentukan oleh beberapa faktor, index UV, musim apa, lokasi equator, mendung tidaknya, dan jam operasi mataharinya, serta warna kulit sendiri. Makin di atas puncak langit matahari makin kuat index UV-nya. Makin kuat index UV makin perlu dikurangi waktu paparnya kalau tidak ingin merusak tubuh.

Index UV pada jam operasional matahari pk 10.00-15.00 tertinggi untuk dimanfaatkan asal tidak berlebihan

WHO menganjurkan cukup 5-15 menit bagian tangan, lengan, dan wajah terpapar matahari pukul 10.00 – 15.00 (cerah, di equator) seharinya, cukup seminggu 3 kali untuk memperoleh manfaatnya. Kelebihan paparan matahari pada jam puncak tersebut, selain merusak kulit sebagaimana sudah disebut di atas, juga merusak kornea mata (keratoconjunctivitis), berisiko katarak, serta merusak DNA kulit memunculkan kanker kulit (melanoma).

Oleh karena bibit penyakit termasuk virus terbunuh oleh UV dengan gelombang sekitar 250 nm (nanometer), maka UVB yang tepat untuk dimanfaatkan membunuh virus. Memang belum ada penelitian ihwal virus baru Covid-19 kita anggap saja mampu sebagai tambahan manfaat berjemur.

Hari-hari ini begitu banyak orang jalan kaki siang hari ingin memanfaatkan matahari khususnya UVB yang punya kelebihan untuk kesehatan, termasuk meningkatkan sistem imun tubuh. Berjalan kaki sendiri selama berjemur bagian dari pilihan gaya hidup bila disertai pilihan menu seimbang (balanced diet), cukup jeda dan tidur, hidup penuh suka cita tanpa stres, serta tidak berpikir beremosi negatif yang justru melemahkan sistem imun.

Vitamin D, yakni vitamin D3 (cholecalciferol) yang dibutuhkan tubuh agar meningkat,yang apabila meningkat juga meningkatkan hormon serotonin otak. Serotonin bagian dari “Hormon Kebahagiaan” yang memberi kita merasa nikmat dalam memberi (apa saja). Maka matahari juga sumber suka cita kita.

Salam sehat,

Dr HANDRAWAN NADESUL


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Close
    [contact-form-7 404 "Not Found"]
    Pioneer Creatitive Writing By Zoom
    Inspirasi Nulis Prosa dan Puisi