Pengalaman Penyintas Kanker : Berbagi Nyawa

”Kanker dan tumor merupakan penyakit yang sangat menakutkan. Vonis kanker seolah membawa pada suatu keadaan yang tidak mungkin terselamatkan. Kalaupun diobati, bagi penderitanya umumnya hanya “menunda” ajal.

Naning Pranoto, penulis, aktivis sastra hijau, dan penggerak literasi, memiliki pengalaman berharga yang membuktikan bahwa vonis kanker, tepatnya kanker kandung kemih, bukan akhir dari segalanya.

Seolah menemukan nyawa simpanan, pengajar dan penulis buku “Menulis Kreatif” itu kemudian mengabadikan kisahnya selamat dari kanker dalam buku berjudul “Berbagi Nyawa: Wake up and Smile”.

Buku ini tentu menarik karena memuat cerita pengalaman penderita hingga detail, detik-detik saat penyakit tersebut menyebabkan rasa nyeri luar biasa.

Bahkan, Naning dengan detail menggambarkan saat-saat dia juga terbawa pada kondisi psikis siap menerima takdir kematian.

Sebagai penulis dan pengajar bagaimana menulis cerita, ia gambarkan betul bagaimana suasana dan keadaan di luar dirinya juga merespons kondisi batin dia saat-saat menyakitkan itu.

“Lalu, bagaimana akhirnya kau bisa hidup normal – jadi juara? Itulah kisahnya, panjang. Maka aku menulis buku ini untuk berbagi nyawa”. Demikian Naning mencantumkan cerita dalam prolog buku ini.

Secara medis, operasi yang dijalani Naning merupakan tindakan yang luar biasa. Membutuhkan energi batin yang luar biasa juga agar pasien mampu bertahan untuk kembali bisa memulai hidup baru yang lebih baik.

Bayangkan, lima organ di bagian abdomen atau rongga perut harus dipotong, termasuk pembuatan lubang alternatif di bagian tubuh, namun akhirnya si “perempuan baja” itu sembuh. Ia kembali ceria dan selalu menyungging senyum.

Naning memulai ceritanya dengan saat ia melihat “wajah mayat” pada dirinya dalam cermin. Ada seraut wajah mayat memantul di permukaan cermin yang menempel di tembok di hadapannya. Walau awalnya ia meragukan dan tak percaya bahwa di cermin itu adalah wajahnya, Naning tidak bisa menolak kenyataan. Bahwa tampilan wajah di cermin itu berbeda sekali dengan keseharian dia selama hidup puluhan tahun. Keceriaan berganti dengan wajah pucat, bahkan lebih dekat pada gambaran wajah yang sudah ditinggal oleh roh penghidupnya menghadap Sang Gusti.

Perubahan wajah itu diawali dengan mimpi-mimpi aneh yang dialami Naning. Ia pernah bermimpi seperti berjalan tidak menapak dalam gelap lalu terperosok ke jurang, bersepeda menyeberangi samudra tanpa batas, mendaki bukit cadas, melihat banjir bandang dan dia hanyut hingga dikerubuti kecoak. Ketika terbangun dari mimpi-mimpi yang aneh itu, kepalanya selalu pusing dan “cenut-cenut”, seperti digodam dan sekujur tubuhnya seperti habis dirajam.

Hari-hari berikutnya, selain masih terus bermimpi buruk, ada hal yang membuatnya putus asa, yaitu hampir setiap 30 menit sekali pipis alias buang air kecil. Frekuensinya kemudian berubah menjadi 10 menit sekali ia harus ke kamar kecil. Yang membuatnya panik, pipisnya berwarna merah. Ya, dia kencing darah.

Momen mengeluarkan darah itu kemudian berlanjut saat mantan pelari sprint di masa muda itu beraktivitas di luar rumah. Perempuan aktif yang mantan wartawan itu juga sering merasakan linu-linu di sekujur tubuhnya. Ia terapi dengan metode kuno Nusantara, kerokan. Kerokan yang dilakukan sendiri tidak membuahkan hasil. Ia meminta tolong temannya untuk “ngerokkan”, baru tubuhnya terasa nyaman. Namun rasa nyaman itu hanya bertahan sepekan, setelah itu kerokan tak lagi mempan. Kemudian muncul ingin pipis hingga setiap 10 menit dan memuncak dengan darah.

Lagi-lagi ia mengonfirmasi keadaan dirinya lewat wajah di cermin. Wajahnya semakin memucat. Selama masih sehat, ia rutin menjalankan resep hidup bergairah sepanjang hari dari Maggie Barnes, ibu kosnya waktu studi S2 di Monash University English Language Centre Clayton Victoria pada 1995.

Barnes menyarankan Naning untuk setiap bangun pagi langsung menatap cermin dengan wajah tersenyum. Resep itu dirasa manjur oleh Naning untuk menjalani hidup penuh ceria, sehat, dan penuh energi positif. Dengan wajah pucat itu, ia kini tidak nyaman berhadapan dengan cermin.

Di tengah kegundahan jiwa, Naning justru lebih banyak bercengkerama dengan sastra dan menghasilkan banyak karya puisi. Kemudian ia sambungkan jiwanya dengan asal muasal hidup yang dalam falsafah Jawa dikenal dengan “Sangkan Paraning Dumadi”. Perempuan asal Yogyakarta itu banyak “nyenyuwun” kepada Gusti Sang Maha Hidup, sebisa yang ia sampaikan.

Suatu ketika, ia sudah tidak kuat dengan sakit akibat kanker yang sebelumnya tidak disadari sebagai kanker. Nyeri di bagian perut seakan-akan diiris silet. Ia kemudian berinisiatif menghubungi rumah sakit yang berlokasi di Jalan M.H. Thamrin Kavling 57 Sentul City Bogor, Jawa Barat.

Ia hubungi juga sahabatnya, Shinta Miranda yang kemudian bersedia ikut mendampingi Naning ke rumah sakit. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter Yacobus Prang Buwono, spesialis urologi, diketahui bahwa Naning mengidap tumor di kandung kemih. Dokter menyampaikan fakta dengan lirih, namun yang didengar Naning, seperti petir di siang hari. Jalan keluarnya adalah operasi.

Singkat cerita pembersihan kandung kemih yang ditangani sendiri oleh dokter Prang berjalan dengan lancar yang kemudian Naning boleh pulang. Di rumahnya ia memasuki harapan baru dengan penuh semangat. Ia beraktivitas biasa, seperti menyapu rumah, memberi makan belasan kucing piaraan, membaca, dan mengajar.

Tiga hari setelah itu, ia harus kontrol ke dokter Prang dan menerima hasil pemeriksaan laboratorium. Hasilnya diketahui bahwa tumor itu bukan hanya di kandung kemih, tapi sudah menjalar ke usus. Solusinya, kandung kemih harus dipotong. Potong usus untuk membuat dompet

Membayangkan sakit dan repot karena harus menggunakan kantung kemih buatan yang setiap beberapa jam harus diganti, terbersit dalam benak Naning untuk mengakhiri hidup dengan menabrakkan diri ke mobil di depan rumah sakit itu. Tapi nalarnya masih jalan. Kesabaran dan ketelatenan dokter Prang diakui sangat membantu Naning untuk pasrah dan ikhlas menerima kenyataan. Naning merasakan betul pelayanan prima dari dokter yang menyelesaikan pendidikan spesialis di Universitas Airlangga Surabaya itu.

Pada operasi itu, ternyata bukan hanya kandung kemih yang dipotong, tapi juga rahim, satu indung telur, usus buntu, dan usus halus. Sekali angkat, lima organ tubuh langsung dibuang dari perut.

Rekomendasi dokter itu semakin menambah gundah psikis Naning. Untunglah, sebelumnya dia sempat belajar meditasi yang sangat berguna untuk menenangkan diri di saat-saat kritis.

Pendiri “Naning Pranoto Creative Writing Corner (NPCWC)” itu, akhirnya mampu melewati masa-masa sulit dan kini sudah bisa beraktivitas seperti semula, meskipun dengan kondisi lebih terbatas.

Diakui, pola hidup sehat dengan vegetarian sangat membantu Naning cepat sembuh dari luka-luka bekas operasi.

Cerita Naning dalam buku ini tentu sangat menginspirasi, bahwa seberat apa pun penyakit yang diderita seseorang, selalu ada harapan jika ditunjang dengan pola hidup sehat dan si sakit selalu mampu menjaga mental mengenai harapan hidup dan sembuh.

Sumber : Antaranews


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


Loading

Diterbitkan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]
%d bloggers like this: