NIA YULIANTI, SE, M.Pd MENDIRIKAN SEKOLAH: MEREDUKSI PERKAWINAN DINI DAN POLIGAMI

Nia Yuianti

Ditulis Oleh: Naning Pranoto


Non quam diu, sed quam bene acta sit vita, refert
Yang penting bukanlah berapa lama orang itu hidup, tapi bagaimana dia hidup dengan baik
(Seneca, 4 SM – 65 M, Filsuf. Negarawan. Dramawan Romawi)

Nia Yulianti, perempuan kelahiran Jakarta 4 Juni 1978, selalu berusaha hidup dengan baik dan terus lebih baik, agar bisa menebar kebaikan bagi orang lain, khususnya kaum perempuan. Prinsip inilah yang membuat hatinya tergerak mendirikan sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Taman Wisata bagi remaja dari kalangan kaum marginal. Tujuannya, untuk mereduksi perkawinan dini agar kaum perempuan bisa merdeka dalam mewujudkan kemandiriannya.

Tentu saja, mendirikan sekolah bukanlah hal yang mudah. Selain memerlukan hamparan tanah untuk mendirikan bangunan sekolahan, juga diperlukan sarana lainnya yang relatif memerlukan modal besar dan SDM berkualitas. Tapi, Nia – demikian panggilannya, hal itu tidak menjadi kendala karena ia memulai pengabdiannya dengan tekad, “Saya didukung suami saya mulai dari nol, melangkah dengan ikhlas selaras dengan suara hati saya yang memanggil jiwa-raga saya untuk mengentaskan anak-anak perempuan dari perkawinan dini. Bahkan juga women trafficking.” Paparnya, mengawali kisahnya berkiprah dalam pendidikan bagi anak bangsa di pinggiran wilayah Bogor.

Airmata yang Perkasa

Untuk mengabdi pada anak bangsa ternyata tidak harus mendirikan partai atau organisasi maupun duduk di kursi parlemen. Dia telah membuktikannya, pada usia yang relatif muda, 30 tahun, mendirikan sekolah gratis SPP.
“Saya tidak melibatkan saudara-saudara, karena ini misi saya yang secara finansial jauh dari memperoleh keuntungan. Saya mendirikan sekolah karena rasa prihatin saya melihat anak-anak perempuan usia sekolah tapi sudah menggendong anak dengan kondisi yang jauh dari hidup sejahtera. Bahkan di antara mereka ada yang sudah janda. Saya menangis, selalu menangis menyaksikan mereka. Tapi, menangis saja tidak mengatasi. Saya harus berjuang, semampu saya untuk mengentaskan mereka.” Nia berkilas-balik.

Nia bersama sebagian dari anak didiknya yang didampingi beberapa guru
Nia bersama sebagian dari anak didiknya yang didampingi beberapa guru

Sebelum mendirikan Sekolah Taman Wisata, Nia mengajar di sebuah SMK di wilayah Kabupaten Bogor yang merupakan bagian dari ‘peta’ perkawinan dini. Padahal menurutnya, anak-anak perempuan yang dinikahkan oleh keluarganya pada usia dini tersebut mempunyai potensi tapi dilemahkan oleh lingkungannya.
“Terjadinya pernikahan usia dini yang mereka alami memang dampak faktor ekonomi – itu penyebab utamanya. Kemudian diperparah oleh pengaruh pola hidup yang konsumtif, mengikuti trend. Jadi tidak hanya menikah usia dini, tapi ada juga yang menempuh jalan tidak benar. Gelap mata! Yang membuat saya sedih orangtuanya tidak memberikan kekuatan agar anak-anaknya kembali ke jalan benar. Malah, ada di antara mereka merasa bangga anaknya bisa punya ini itu karena laku – banyak lelaki yang memberi.” Nia menggeleng-geleng sedih.
Kesedihannya berangsur sirna manakala ia menceritakan almarhum neneknya yang mengajarkan tentang esensi kemandirian bagi perempuan. Sedangkan ayahnya yang militer mendidiknya menjadi insan yang disiplin, bertanggung-jawab dan jujur.

“Ibu saya meninggal ketika saya berusia tiga tahun. Sejak itu saya diasuh nenek dengan penuh kasih sayang, tapi tidak dimanjakan. Nenek selalu menasihati saya harus berdiri di atas kaki sendiri. Dari nasihat itu saya mengambil pelajaran bahwa kita tidak akan ada yang bisa menolong kecuali diri sendiri.” Tegas Nia, menjadi ‘perempuan perkasa’ berkat didikan nenek.

“Sedapat mungkin didikkan nenek saya itu saya motivasikan kepada anak didik secara langsung kala bertatap muka dengan saya maupun melalui guru-guru.” Imbuhnya.

Dari Angka ‘28’ Kini hampir Mencapai ‘1.000’: Hadir 24Jam
Nia mendirikan SMK Taman Wisata tanggal 20 April 2009 di atas sebidang tanah seluas 3.700 M2. Angkatan pertama mendapat 28 murid yang sebagian besar diperoleh dari operasi door to door untuk melobi para orangtua agar menyekolahkan anak perempuannya. Di sisi lain, Nia juga meyakinkan para pamong setempat yang meragukan sekolah ‘gratis’ yang didirikan oleh Nia bersama suaminya. Bahkan Nia juga ‘belajar’ bersikap bijak dan sabar pada saat dilecehkan dan ditentang oleh pihak-pihak pendukung pernikahan usia dini. Di sinilah kekuatan lahir batin dikuatkan dengan doa, sangat diperlukan. Karena penentangnya tidak sedikit, sementara Nia telah mengeluarkan biaya relatif besar maka ia pun berjuang dalam diam untuk meredam konflik dan mewujudkan keberhasilan.

Kemudian, tanggal 20 Januari 2015, perempuan mungil energik itu mendirikan SMP dengan murid 28. Kini jumlah muridnya total SMP dan SMK hampir mencapai 1.000, termasuk guru dan SDM pendukungnya, berada di lingkungan tanah seluas 8.000 M2. Tanpa menyebut angkanya, Nia bersyukur mendapat dana Bantuan Operasi Sekolah (BOS) dari pemerintah, untuk meringankan beban operasional dua sekolahnya yang menjadi tanggungannya. Biaya kekurangan untuk operasional sekolahnya ia upayakan dengan berbagai cara antara lain membuka usaha catering.

“Jujur ya. Saya melakukan tambal-sulam agar sekolah tetap jalan. Kebahagiaan saya kala bekerja tanpa mengenal waktu untuk kelangsungan belajar anak didik saya. Orang bilang, anak didik saya menjadi tanggung-jawab saya selama di sekolah. Tapi, bagi saya tidak. Saya kerja untuk mereka dua-puluh empat jam. Jadi, ketika mereka berada dalam kesulitan saya berusaha selalu hadir dan membantunya. Contoh, ketika ada anak didik yang diperkosa oleh pamannya saya menuntaskan masalah ini tidak hanya ke pihak kepolisian, tapi juga ke Komnas Perempuan.” Penjelasan Nia dengan penuh semangat.

Jam kerjanya full 24 jam yang ia terapkan untuk dirinya, memang tidak sepenuhynya mendapat dukungan dari para guru. Karena menurutnya, ada guru yang hanya mengajar murinya dari buku, ada pula guru yang ngajar muridnya dari buku dan dari lembar kehidupan serta melayani penuh. Nia memposisikan sebagai guru yang kedua, karena memang terpanggil untuk itu ditambah lagi sebagai pendiri dan pemilik Sekolah Taman Wisata.
Lalu, kapan waktunya untuk keluarga? Nia, menjawab lugas, “Kami sekeluarga sepakat untuk mengabdikan diri pada anak bangsa melalui Sekolah Taman Budaya!”

Melawan Women Tracffiking dan Poligami

SMK Taman Budaya yang punya jurusan Perhotelan, Tata Boga, Travel dan Busana Batik telah berhasil mengantarkan anak didiknya menyelesaikan pendidikannya dan disalurkan ke berbagai perusahaan dan instansi yang membutuhkannya. Menurut Nia, angka penyaluran kerja 95% dari angka kelulusan dan yang menikah hanya 5%.

Angka kelulusan anak didik SMP tiap tahun meningkat. Menurutnya, dari SMP yang melanjutkan ke jenjang SLTA 70%, yang bekerja 25% dan sisanya 5% menikah. Dengan data ini Nia menyimpulkan bahwa usahanya mereduksi perkawinan dini relatif berhasil. Walau ia tidak bisa mengingkari, ada saja anak didik yang ‘nakal’ dampak dari pergaulan yang konsumtif. Bahkan ada yang menjadi korban women tracffiking keluarganya tapi jumlahnya kecil. Meskipun demikian, Nia mengaku tidak bisa diam. Ia terus berjuang dengan caranya yang tidak menimbulkan onar dan mengusik pihak-pihak tertentu. Dalam hal ini ia sangat berhati-hati.

“Sejak awal mendirikan sekolah kan tujuannya memang untuk pemberdayaan perempuan. Maka saya memberikan motivasi berulang-ulang kepada anak didik kelas sembilan SMP dan kelas sembilan SMK. Karena kelas tersebut yang rentan sekali.” Nia menggarisbawahi.

Motivasinya memberikan gambaran bahwa kaum perempuan itu harus punya skills ya keahllian. “Maksud saya, agar mereka bisa hidup minimal bisa menghidupi diri sendiri. Saya juga memberi gambaran, apa jadinya jika perempuan memposisikan dirinya murah – apa akibatnya. Tapi jika perempuan bisa menjunjung harga dirinya, martabatnya, laki-laki pun akan sungkan. Maka, kalau perempuan paham apa artinya hidup, maka akan mencari pasangan hidup yang baik. “ Demikian contoh motivasi yang diberikan Nia kepada anak didiknya. Walau ia sadar bahwa tidak semua anak didiknya mengikuti arahannya. Meskipun demikian, Nia optimistis usahanya mampu mengangkat harkat para perempuan muda yang menimba ilmu di sekolahnya. Karena ia bisa melihat hasilnya secara nyata.

Semua ingin punya masa depan

 

Selain wilayah pernikahan usia dini, Nia juga menyaksikan adanya praktik poligami di daerah sekitar sekolahnya. Dengan tegas, Nia mengatakan, “Saya sangat tidak setuju. Bagi saya, perempuan yang dipoligami diambil kemerdekannya. Memang tidak akan sinkron dengan agama apabila dikaitkan. Oleh karena itu perempuan harus bisa berdiri di kaki sendiri dan mempunyai prinsip tidak perlu hanya bergantung pada suami. Sehingga suami akan berpikir, apabila seorang perempuan punya prinsip.”

Dengan jujur Nia juga mengatakan bahwa sekolahnya tetap membantu anak didik perempuan yang pacaran kebablasan hingga hamil. Anak didik tersebut tidak dikeluarkan, tapi tetap diberi kesempatan menyelesaikan studinya. Tapi tidak di sekolah, ia bisa belajar di rumah dan bimbing oleh guru-guru. “Saya terapkan perlakukan khusus begini agar prinsip saya agar anak didik setelah melahirkan bisa mandiri walau prosesnya agak lamban.” Nia menegaskan.

Kepada anak didik laki-laki, Nia menekankan agar mereka menghormati hak-hak perempuan yaitu setara dan tidak melakukan kekerasan secara fisik maupun verbal. Maka tak heranlah apabila di sekolahnya boleh dikatakan sepi dari bully dan perkelahian. Mereka bergaul secara tertib dan patuh aturan sekolah.

Kini sambil terus mengembangkan SMP dan SMK Taman Wisata, ia merintis mendirikan sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khususnya. Ia telah memulainya di daerah Jonggol dan muridnya sudah ada sekitar 20-an anak. “Saya ikut mengajar hal-hal yang dasariah sebagai manusia. Misalnya, mengajari mandi-cebok, cara makan, hingga melatih bicara dan mengasah emosionalnya. Banyak hal yang bisa saya petik untuk memperkaya batin saya dan semakin cinta pada Allah penuh syukur.” Nia yang berjuang tiada henti, mempungkasi sepenggal kisahnya.*

Penulis: Naning Pranoto
Foto: Naning Pranoto/Koleksi Sekolah Taman Wisata Kabupaten Bogor.


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]