Mira Adyanti: Perempuan Tanah Emas

Berprestasi Tiada Henti

Catatan Liris karya Naning Pranoto


Torehlah kulit dan cabutlah duri, kemudian biarkan kulit segar tumbuh menutupi luka.

(Jalaluddin Rumi, Penyair Agung Persia)

*

Pada hari yang indah-wangi  bertabur doa dan lafal penuh syukur,  Catatan  Liris kusematkan di   detak jantung merah jambu  berusia sembilan windu:Mira Adyanti yang empunya. Aku belajar darinya, tentang  menyembuhkan segala luka dengan ketegaran tanpa ketakutan.

*

          Awal tahun 1982 aku mengenalnya, kala  musim semi tanpa daun, tanpa  bunga. Mira membawa segumpal tanah di tangan kanannya dan segenggam hujan di tangan kirinya. Nafasnya sepi. Lelakinya  terbang ke langit  tinggi, lalu sunyi membawanya   menapaki liku sepi – sendiri!

“Hidup terus berlanjut, langkah pantang berhenti.” Ujarnya dengan gema sahara. Kuamati, sepasang bola matanya memancar bintang pagi,  melukis jelitanya wajah fajar. Segumpal tanah dan segenggam hujan yang dibawanya ia tenun dan dilekatkan di setiap lekuk tubuhnya. Aku menyaksikannya: perlahan,  ia menjadi Perempuan Tanah – tanah gersang.

Puting Perempuan Tanah Gersang  menyusui empat tunas pohon berdaun sayap-sayap emprit bercuit-cuit. Ia  menggendong mereka dengan selendang air susu yang diperas dari air matanya. Air susunya  keruh memerah  karena bercampur dengan tetes-tetes keringat yang mengucur dari alir nadinya. Mereka yang menyaksikan berteriak miris, “Darah! Darah! Darah!”

Dengan suara lembut Perempuan Tanah menegaskan,”Air susuku bukan darah, tapi perasan wangi madu mawar merah yang menumbuh di pori-poriku atas kemurahan Allah! Setiap tetesnya adalah berkah.” – ia belajar bersyukur untuk membunuh kepiluannya berjuang menaklukan hidup tanpa lelakinya.

Bagaimana mungkin? Aku bergumam.

“Itulah hikmah Tanah yang berserah.”  Sahutnya, tersenyum.  Ia memang selalu berusaha bisa tersenyum dalam menghadapi hidupnya yang pahit. Pada suatu pagi di ujung doanya, ia benar-benar mampu tersenyum. Senyumnya merekah dan bibirnya memerah fajar. Senyuman itu  membuat wajahnya yang gersang tak lagi pecah membongkah. Semburat humus membedakinya. Kulihat,  Dewi Laksmi menghampirinya. Dewi Kesuburan itu mengajaknya  menebar biji padi dan palawija. Sepasang tangan Perempuan Tanah menyembah, lalu menadah, puja-puji syukur ia kidungkan  berlanggam sumringah.

Ketika Langit Timur memerah, sebelum embun mengering, Perempuan Tanah telah  mengayun cangkul di ladang sekujur tubuhnya. Ia semai semua biji yang ada di kedua genggam tangannya. Kulitnya yang coklat terpanggang matahari membuatnya bersosok warna tembaga. Bahkan, hitam membaja. Deretan gigi-giginya yang putih menjadi mutiara bercahaya. Cuit-cuit empat emprit memanggilnya: “Mama Perkasa! Mama luar biasa!” – kemudian kalimat mereka bersambung bangga, “Sungguh beruntung  kami mengada di dunia lahir melalui rahimnya. Kami yakin, kala Tuhan menciptakan kami Dia dalam puncak suka-cita. Maka auranya membuat  kami bahagia menjadi anak-anak Mama Mira.”

Perempuan Tanah adalah seorang ibu yang ubun-ubunnya menumbuh pohon trembesi  harapan menjulang setinggi  puncak Himalaya: Empat Emprit harus menjadi Empat Rajawali penakluk angkasa raya kehidupan. Setelah memecah celengannya  sosok ayam jago terbuat dari gerabah, ia lalu bergegas   ke pasar tanpa terompah. Ia berlari sekencang nafas rusa betina. Sesampainya  di pasar ia   membeli sejengkal mori, sebatang jarum, segulung benang emas untuk menyulam barisan awan yang dijadikan tangga ke angkasa untuk mewujudkan cita-citanya.

Bagaimana mungkin? Berapa lama kau akan rampung menyulamnya? Aku bertanya.

Perempuan Tanah tersenyum, untuk membalut keresahannya. Ia rindu pada lelakinya. Ia ingin ditemaninya menyulam barisan awan, berdua. Sayang, bentangan jarak dunia-akherat membuatnya mustahil lelaki yang dirindukannya hadir dalam dunia  nyata. Air matanya menetes-netes pedih  ia usap dengan butir-butir pasir putih yang diambilnya dari hasta Dewa Ruci. Itu butiran pasir yang menggegam telaga Air Kehidupan – penyiram Tanah menjadi teguh-kukuh dan subur. Tiba-tiba ia menjadi romantis dan dibacanya Puisi Cintaku Jauh di Pulau karya Chairil Anwar. Sejak itu ia jatuh cinta pada karya sastrawi yang menenangkan hati. Ia tulis warna-warni suara hati. Dibacanya pula karya-karya para pujangga untuk membasuh jiwanya yang gersang agar menumbuh bentangan sawah ladang lumbung pangan,gelaran papan.

Perempuan Tanah terus mencangkul dan merabuk tanahnya dengan bantingan tulang, doa panjang dan tirakat putih berhias sirih ayu dan melati untuk mewujudkan sosok diri hakiki. Kala hujan bercurah biji-biji yang disemainya menumbuh, tunas-tunasnya menebar aroma wangi. Kala kemarau tiba,Perempuan Tanah menyiram tunas-tunasnya dengan keringatnya yang merembes dari pori-pori. Tentu itu tak cukup. Ia pun membuat air dari dari perasan akar-akar rambut dan lekuk-lekuk sendi tulangnya. Bahkan ia peras alur-alur  nafasnya. Ketika ia jatuh terkapar tiada daya, hasta seorang maha ibu – Ibu Agung  membangunkannya, membimbingnya, menafasinya dengan spirit tawakal – hingga membuatnya tegak kembali dan menjadi Perempuan Tanah Subur yang terus menyubur.

Bersama Ibu, Ibu Agung yang membimbingnya.

Perempuan Tanah Subur membentang padang walau luasnya hanya sejengkal. Berkat doanya dituntun Ibu Agung, para leluhurnya hadir menjaganya. Ia lahir sebagai putri tunggal, lalu menjadi yatim piatu kala ayah dan ibunya kembali ke pangkuan Maha Pencipta. Kala itu ia masih kepompong, perlu waktu menjadi seekor kupu-kupu. Pernah ia merasa hidup dalam sunyi dalam ruang hampa. Gusti Allah yang Maha Pemurah mengubah kesunyiannya menjadi pilar-pilar yang  membangun sosok ringkih  menjadi tegak ber-ruh api kelembutan Dewi Agni.

Ia tak pernah takut dalam kesendirian karena cahaya api kelembutan Dewi Agni  dalam dirinya menerangi. Keempat emprit dalam dekap gendongannya pun merasa hangat dalam cuaca dingin, merasa sejuk dalam cuaca panas di kehangatan tubuhnya yang bertanah gembur yang terus menyubur. Berbagai tanaman dan pohon menumbuh hijau di tubuhnya. Tirta di tubuhnya   menjadi oasis persinggahan bagi siapa pun yang haus kedamaian, perlu pertolongan maupun mereka yang tulus   untuk  mengikat tali persahabatan. Ketika hama datang menyerang, Perempuan Tanah Subur menghalaunya tanpa dendam. Ia belajar pada Ibu Bumi, yang kokoh selalu  ikhlas memberi – memaafkan siapa pun yang menginjaknya dan membenci.

Perempuan Tanah Emas dalam perjalanan menunaikan ibadah haji

Seiring bergantinya musim demi musim, cangkul mencakul yang ia ayunkan tiada henti, Ia tidak menghitung lajunya masa.  Perempuan Tanah Subur perlahan tapi memancar, berubah menjadi Perempuan Tanah Emas. Aneka tanaman dan pepohonan yang tumbuh di hamparannya berbuah manisnya emas. Sayap-sayap emprit yang digendongnya telah membentang menjadi sayap rajawali berbagai versi, sesuai dengan masing-masing emprit yang menjalani.

Perempuan Tanah Emas meneteskan air mata ketika seekor empritnya bersayap patah – jatuh penuh luka di kaki dan kepalanya, terperosok dalam jurang racun berdarah. Ketiga  emprit lainnya mengusap air matanya – air mata seorang ibu yang telah menyulam barisan awan untuk tangga menuju Puncak Himalaya bagi putra-putrinya. Duhhhhh… warta duka  ini sungguh  menikam jantung dan ulu hati siapa saja. Tapi, Perempuan Tanah Emas adalah Putri Ibunda Gurun Penakluk Badai. Dengan berserah jiwa-raga kepadaNya – Maha Pencipta, belenggu duka yang mencengkeramnya terudar pudar seiring waktu tergantikan doa yang selalu berdoa. Ia yakin, di dunia ini tidak ada yang sempurna, maka ia pun iklhas menerimanya: bahwa dunia adalah hitam-putih wajahnya. Bahkan banyak warna dan banyak ternoda noktah merah.

Hari ini, 25 Desember 2017, Perempuan Tanah Emas berusia sembilan windu. Bersama Dewi Sri, aku diutus Dewi Laksmi – Dewi Kesuburan, menghantarkan Gunung Tumpeng berhias Kembang Setaman beriring Donga Rahayu sebagai pengukuhan eksistensi Perempuan TanahEmas,  dalam berbagai kilau pancaran kiprahnya. Kidung Rumekso Ing Wengi karya Sunan Kalijaga senantiasa menjaganya agar bebas dari segala marabahaya.

*

Jabat erat tangan saya berbalut kasih nan tulus  dan selalu hangat untuk Mbakyu Mira Adyanti. Sehat selalu, Mbak. Jadi inspirasi dan payung teduh bagi banyak orang yang memerlukannya.

Gubug Hijau Sentul City – Bogor, awal Desember 2016

Diterbitkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Error: Contact form not found.