Masjid Sang Cipta Rasa, Mengajarkan Umat Untuk Bertatakrama

Perjalanan Reliji


Untuk kategori masjid kuno, nama masjid Sang Cipta Rasa ini agak aneh ditelinga. Ternyata nama ini sarat dengan kesakralan, Sang berarti keagungan, Cipta dibangun dan Rasa digunakan kalau dipadukan menjadi keagungan ini dibangun untuk digunakan. Dan nyatanya masjid yang dibangun tahun 1489 oleh Sunan Gunung Jati ini masih kokoh dan digunakan sampai saat ini.

Kemegahan masjid ini terletak pada banguan yang keseluruhannya menggunakan kayu jadi dan bata merah.Ada sedikit persamaan dengan masjid Agung Demak, disini juga ada 12 soko guru atau tiang penyangga dari kayu jati. Salah satu tiangnya menggunakan tatal seperti yang dibuat Sunan Kalijaga di masjid Agung Demak.

Dari luar masjid ini nampak biasa-biasa saja, terhimpit dengan bangunan-bangunan sekitar yang tidak beraturan. Yang menarik tembok yang mengelilingi masjid  terbuat dari bata merah,  gapura dan bangunannya terlihat ada pengaruh  arsitektur masa Hindu Majapahit. Bangunan utama berbentuk rumah Joglo dengan serambi yang cukup luas.

Keunikan masjid yang sampai saat ini masih digunakan oleh keluarga Keraton Kasepuhan ada pada pintu masuk yang pendek. Sehingga siapapun yang akan masuk kedalam masjid harus membungkuk dan menundukkan kepala. Ini merupakan salah satu kearifan lokal yang tetap dilestarikan. Suatu ajaran tatakrama yang menyiratkan bahwa kita harus menghormati tempat ibadah, dengan menjaga kesopanan dan tidak bertingkah sombong.

Bagian lain yang mendapat perhatian pengunjung adalah Sumur Bandung yang tidak pernah kering disegala musim. Sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat wudhu dan dipercaya bisa menyembuhkan penyakit, memberikan enerji positif dan menolak bala. Diserambi belakang ada  cempor (sejenis api kecil dengan bahan bakar minyak kelapa) yang dinamakan Delepak, harus menyala selama 24 jam. Cempor ini masih dilestarikan sampai sekarang melambangkan adanya kehidupan.

Sedangkan keunikan lainnya adanya jumlah muazinnya yang tujuh orang. Atau lebih dikenal dengan Azan Pitu, konon ini semua ini hasil musyawarah para Wali Songo untuk menetralkan energi negatif yang ada di dalam masjid ini. Dan sampai saat ini  khotbah Jumat  selalu  menggunakan bahasa Arab.

Masjid Sang Cipta Rasa menjadi salah satu saksi, bahwa kedatangan Islam di Indonesia khususnya di Jawa yang disebarkan oleh Wali Songo, selalu menyelipkan kearifan lokal yang telah menjadi panduan hidup nenek moyang kita.


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]