Marie Martine Tumilaar: Hidup Manis, Meneguk Kayu Manis

Marie Martine Tumilaar diapit putri dan keponakannya Grace dan Maudy.


Gaya Hidup Sehat


Mega berarak di langit Guntung Manggis Kota Banjarbaru ketika Penulis menghampiri sebuah rumah berpagar bongkahan kayu bermotif ukiran Dayak. Marie Martine Tumilaar, perempuan kelahiran Manado tahun 1935  mendiami rumah di Komplek Benawa Indah  itu,  tinggal bersama anak dan menantu serta dua orang cucunya yang sudah remaja. Oma Marie, demikian ia disapa. Raut wajahnya dihiasi senyum setiap kali menceritakan masa mudanya. Tutur katanya begitu halus dan gerak-geriknya yang sangat lembut tak menyangka jika di masa kanak-kanak ia gesit bermain kasti. Pada  saat ia  remaja memang seorang  atlet voli andalan sekolahnya. Bahkan sesudah menikah pun ia masih tangkas di lapangan voli hingga anak-anaknya duduk di Sekolah Rakyat (SR) setara dengan Sekolah Dasar (SD).

Rona wajahnya memancar kejelitaan masa muda dan penuh semangat di usianya 83 tahun ketika ia menceritakan  karunia  buah cintanya  tujuh orang anak, 16 cucu, dan enam  cicit.  Perkawinannya dirajut dengan benang kenangan indah lebih dari setengah abad bersama almarhum  P.H.Toar, yang telah mendahuluinya berpulang tahun 2012. Antara lain kenangan indahnya saat bernyanyi bersama, naik angkot berdua ke pasar tradisional, dan mendampingi suami tugas ke luar daerah ditemani cucu yang masih balita.

 

Meninggalkan Karir Demi Rumah Tangga

Kota kelahirannya – Manado, Maldiven van Celebes, telah membekali Marie  dengan ijazah Sekolah Kepandaian Putri (SKP). Pada tahun 50-an ia meninggalkan kota di ujung utara  Pulau Sulawesi itu menuju Surabaya dan melanjutkan pendidikan ke SGTK.

“Saya ingin menjadi guru TK,” kenangnya. Matanya berbinar ketika ia menceritakan masa-masa ceria menjadi Guru Taman Kanak-Kanak di Banjarmasin setelah diboyong suaminya ke kota yang dikenal dengan julukan  Seribu Sungai itu pada awal tahun 60-an. Matanya kembali berbinar manakala  ia berkisah tentang keputusannya, meninggalkan profesi guru. Ia  memilih menjadi pendamping suami dan ibu rumah tangga. Ia menanggalkan seragam Guru TK Perwari Banjarmasin. Padahal pada waktu itu rumah-tangganya sedang memerlukan banyak biaya, khususnya untuk membesarkan putra-putrinya.

Ketulusannya menjadi Ibu bagi anak-anaknya membuat suaminya  sebagai seorang guru yang karirnya cemerlang. Tahun 80-an  P.H.Toar diangkat  sebagai Kepala SMP 6 Banjarmasin. Dalam asuhannya sekolah tersebut  menjadi Sekolah favorit dan sekolah teladan di jamannya hingga kini.

Maudy, anak perempuannya, sangat mengagumi ibunya.  Menurutnya perempuan  yang melahirkannya itu sangat sabar dan selalu bertutur  lembut tanpa tekanan tinggi. “Mami itu perempuan  penyayang, maka  ia juga disayang anak, cucu dan cicitnya,” ujar Maudy. Selain itu, ibunya piawai dalam mengelola berbagai  bentuk  konflik, termasuk konflik  rumah tangganya.

Dalam usianya 83 tahun  Oma Marie masih melakukan kegiatan selayaknya ibu rumah tangga yang trengginas. Pagi-pagi ia mencuci pakaian, menjemur, dan menyetrika pakaiannya sendiri. Ia juga  menunggu tukang sayur dan memasaknya  untuk makan bersama cucu-cucu. Sayur olahan yang sering disajikannya adalah pare dan daun papaya. Ia juga menyukai ikan sungai seperti ikan haruan (gabus), papuyu, dan seluang. Menu favorit keluarga olahan Oma Marie adalah  menu ayam woku. Ia masih memasak menu tersebut untuk dihidangkan pada  hari-hari ulang tahun anggota keluarganya.

 

Enjoy dengan Bernyanyi

Hidup Manis Mereguk Kayu Manis

Di sela wawancara, Oma Marie melantunkan lagu kesayangannya, “Hidup Ini Adalah Kesempatan” berikut ini liriknya:

 

Hidup Ini Adalah Kesempatan Lirik

Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan apa yang Tuhan bri
Hidup ini harus jadi berkat…

Reff :

Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti
Ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat

 

Terdengar suaranya bening dan lembut. Setiap hari mendengarkan lagu dan bernyanyi, ucapnya. Ia menceritakan kegemarannya bernyanyi sejak di bangku SR. Bersama saudara-saudaranya ia kerap tampil mengisi acara-acara keluarga. Hingga kini, Oma Marie masih senang  menyanyi dan mendengarkan lagu. Di saat senggang ia berlatih menyanyi bersama teman-teman di Perkumpulan Kerukunan Keluarga Langowan Banjarmasin dan Perkumpulan Kawanua Maesa Banjarbaru.

Oma Marie mengisi  hari-harinya dengan sehat dan semangat. Ketika ditanya rahasia sehat yang dimilikinya, ia mengatakan tak punya resep khusus. “Enjoy,”  katanya, disertai  seulas senyum, Oma Marie mengatakan kalau ia suka makan pisang susu dan sekali-sekali makan buah nanas. Apabila tubuhnya terasa  letih lesu, ia mengambil kayu manis seruas jari lalu merebusnya dengan segelas air. Ia meminumnya saat air rebusan telah dingin. Khasiatnya,  mengembalikan kesegaran tubuhnya. Ia melakukan kebiasaan ini sejak lima tahun yang lalu.

Satu hal lagi yang membuatnya gembira adalah berjumpa dengan  teman-teman dan bernyanyi bersama. Semua itu tentu sangat meneguhkan jiwa dan raganya sebagai perempuan yang berbahagia sebagai warior..

 

Laporan : Cornelia Endah Wulandari

Editor : Naning Pranoto

Fotografer : Maudy Trudy Katrin

   (Sumber Lagu : https://lirik-lagu-dunia.blogspot.com/2017/10/lirik-lagu-hidup-ini-adalah-kesempatan.html)


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


2 thoughts on “Marie Martine Tumilaar: Hidup Manis, Meneguk Kayu Manis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]