MAME ZOELY LY: TANGAN YANG MEMBUNGA WANGI MOMONG WARIOR

Berjuang Tiada Henti

Fortuna favet fortibus
Nasib baik menyertai orang yang berani
(Cicero – Orator, Politikus, Pengacara dan Filsuf Roma, (106 – 43 SM)

MAME ZOELY LY
Berani? Ya, berani menderita dan siap belajar hal-hal yang baru. Itulah prinsip hidup perempuan kelahiran bulan Juli 1971, asal Solo yang akrab dipanggil Mame Zoely Ly. Nama aslinya Juli, sesuai dengan bulan kelahirannya. Bertubuh mungil, geraknya lincah, suaranya lantang – mengekspresikan bawa ia seorang perempuan yang dinamis. Di balik kedinamisannya ada kelembutan yang melantunkan suara merdu dan jemarinya menggesek biola penuh penghayatan. Maka Juli yang selalu murah senyum itu dikenal sebagai penyanyi keroncong dan penyanyi campur sari, sekaligus seorang pemain bioala handal. Ia sering manggung untuk menghibur para sahabatnya, atau bermain biola dan bernyanyi di acara-acara resmi maupun setenggah resmi yang digelar di Hong Kong. Ketika artikel ini ditulis, ia memang bermukim di Hong Kong dan pernah juga tinggal di Taiwan.

Juli merupakan salah seorang dari ratusan ribu Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bekerja di Hong Kong. Tugasnya, merawat warior (warga senior) alias manula berusia di atas 80 tahun. Bahkan ia pernah merawat warior usia di atas 100 tahun. Pekerjaan yang kini ditekuninya ia rintis di Taiwan, secara kebetulan. Berkat keberanian dan ketekunannya belajar pada hal-hal yang baru, membuatnya bernasib baik karena kepiawaiannya. Maka tak heranlah bila timbul keinginan untuk menulis buku mengenai pengalamannya yang penuh nilai-nilai kemanusiaan dalam merawat orang-orang sepuh yang memang perlu perhatian dan kasih sayang. Sangat mungkin, buku yang akan ditulisnya bisa menjadi tips-tips berharga bagi siapa pun yang ingin memuliakan para warior yang telah berjasa pada generasi sebelumya.

Mesin Sedot Dahak dan Suster Jaga 24 Jam

Bagi Juli, merawat warior merupakan hal baru yang harus dipelajarinya dengan sepenuh hati agar ada jalinan kasih sayang di antara dirinya dengan orang yang dirawatnya. Tahun 2005 ia merantau ke Taiwan, bekerja di pabrik makanan. Tanpa disangka-sangka pemilik pabrik makanan itu meminta Juli merawat orangtuanya, agar tidak dimasukkan ke rumah jomppo. Majikan Juli mengajarinya cara merawat orangtua dan ia mengikutinya dengan tekun. Selajutnya, ia bekerja di panti jompo hingga empat tahun lamanya.

“Para warior Taiwan dimasukkan ke panti jompo untuk mendapat perawatan lebih baik daripada dirawat di rumah. Karena di panti menyediakan alat-alat medis yang memadai. Misalnya, ada mesin sedot dahak dan oksigen serta suster jaga dua puluh empat jam. Sehingga jika mereka memerlukan pertolongan akan dapat diatasi segera!” Juli membuka kisahnya. “Nah, tugas saya dan kawan-kawan dalam merawat warior antara lain memandikan, menyisiri raambut, menyuapi, memberi obat, mengganti popok dan tentunya momong mereka dengan penuh kasih sayang.” Tegasnya.

Bicara soal momong warior, suara Juli tiba-tiba serak. Ia menahan tangis. Kesedihannya tak bisa ia bendung. Ia trenyum menyaksikan para warior yang tak berdaya, terlentang di tempat tidur masing-masing. Padahal masa lalunya mereka itu ‘pahlawan kehidupan’ yang membesarkan anak-anaknya dan diantar menjadi manusia sukses. Kemudian oleh anak-anaknya dititipkan di panti jompo, ketika mengantar mereka menggunakan mobil mewah. Kemudian ditinggal. Di sinilah Juli dan teman-temannya harus mampu momong mereka agar kondisi mereka tidak merana, tidak nelangsa. Bagi Juli pribadi, ia berusaha untuk bicara sebisanya, mendengarkan keluhan maupun cerita mereka.

“Para warior yang terkena stroke bicaranya terbata-bata. Yang sudah tidak bisa bicara, mereka berkomunikasi dengan matanya yang layu. Yang tulangnya sudah rapuh, hanya mampu menggerakkan jemarinya sebagai alat komunikasi.” Papar Juli penuh duka. Jika ia menghadapi warior yang demikian, lalu ia belai jemarinya. “Kadang saya genggam tangannya, setelah saya balikkan tubuhnya yang penuh luka.”

Airmata dan Canda untuk Madam Ming

Tidak semua yang di panti jompo berusia di atas 80 tahun. Juli bercerita, ada juga yang masih berusia 70 tahun, tapi kondisinya mengenaskan. Salah satunya diantara mereka ia sebut sebuah nama: Madam Ming! Kata Juli, Madam Ming perempuan cukup berpunya.Sayang sekali, ia menderita stroke. Kesehariannya hanya bisa terlentang dan kalau bicara suaranya terbata-bata. Ia dimasukkan ke panti jompo karena anak-anaknya sibuk berbisnis.

“Karena terus menerus berbaring, tubuhnya lecet-lecet – penuh luka. Setiap saat mesti ganti perban. Kala menggantinya, ia saya elus-elus tubuhnya. Ketika nafasnya sesak saya pijit-pijit agar dahaknya mencair ke luar. Jika merasa enak ia memberi respon positif melalui gerak tangannya. Ketika dirawat di rumah sakit, saya rajin menyisirinya. Rambutnya saya hias dengan jepit-jepit lucu. Juga saya ajak bercanda. Waktu visiting dokter, ia tersenyum. Tapi, begitu dokternya berlalu ia kembali murung. Tangannya saya genggam. Nafasnya tersengal-sengal. Ternyata nafasnya yang terakhir.!” Suara Juli hampir menghilang, karena kesedihan membalut perasaannya.

Mame Zoely Ly Warior
Juli bersama salah seorang warior yang dirawatnya.

Beberapa lama kemudian ia melanjutkan ceritanya. Begitu Madam Ming sudah dipastikan meninggal, salah seorang anak perempuannya menelpon Juli. “Cece, ganti baju mamaku. Pakaiakan sepatunya. Semua ada di lemari. Ambulans sudah saya pesan untuk mengantar ke rumah saya.” papar Juli menirukan perkataan anak perempuan Madam Ming. What? Juli memekik penuh emosi. Begitukah ia memperlakukan ibunya? Juli termenung sejenak. Selanjutnya ia bercerita, dibantu teman-temannya mengganti baju Madam Ming dengan pakaian adat Cina berwarna merah, sewarna dengan sepatunya yang bersulam keemasan. Rambutnya ia sisiri rapid an tidak lupa dihiasi jepit-jepit rambut yang bermotif kembang. Apa yang ia lakukan terhadap Madam Ming, sulit ia lupakan. Dari pengalamannya itu ia memetik hikmah, bahwa menjaga kesejahatan di waktu muda itu sangat penting agar di masa tuanya masih bisa menikmati cita-rasa sehat.

Wajah-Wajah Senja Merindukan Kehangatan dan Kram Pinggang

Ketika kontrak kerja di Taiwan sudah selesai, ia kembali ke Indonesia. Berbagai kenangan merawat warior di Taiwan sering muncul di pelupuk matanya. Terbayang wajah-wajah di panti jompo, ya wajah-wajah senja yang merindukan kehangatan. Juli paham benar, para warior yang berada di panti jompo pada umumnya merasa kesepian karena jauh dari keluarga. Tapia pa daya? Anak-anak merekalah yang membawa para warior ke panti jompo. Maka, Juli selalu berusaha menghibur mereka dengan mengajaknya berbicara. Sayangnya, tidak semua warior masih bisa diajak bicara. Bagi yang sudah terlalu tua, bisanya hanya terlentang dan sesekali bergumam tak jelas maksudnya. Jika menjumpai warior seperti itu, Juli mengelus-elus atau menggegam tangan mereka dan ia rasakan mereka tenang.

Tahun 2014, Juli kembali merantau sebagai BMI. Kali ini Hong Kong yang menjadi tujuannya. Berdasarkan kontrak ia bertugas merawat anak kecil berusia lima tahun. “Tapi kenyataannya saya harus merawat dua orang warior suami-istri. Si istri berusia 85 tahun dan suaminya berusia 102 tahun. Keduanya menggeletak di tempat tidur tak bisa bergerak. Pada mulanya ingin saya tolak, tapi apa daya saya sudah terlanjur di Hong Kong. Akhirnya saya terima. Gaji cukup besar, hidup saya terjamin.” Kenang Juli.

Sepasang warior yang dirawatnya ia panggil kungkung (kakek) dan phopo (nenek). Mereka ini mempunyai sembilan anak. Anak-anaknya ada yang tinggal di Australia, Amerika, Cina, Belanda, Inggris, Singapura dan ada dua orang yang tinggal di Hong Kong. Tapi mereka hanya datang tiga kali seminggu untuk makan bersama.

Selebihnya mereka berdua tinggal bersama Juli. Setiap hari Juli harus mengangkat kungkung yang beratnya 70 kilogram, untuk dimandikan dan kemudian didudukkan di kursi roda. “Suatu hari pinggang saya kram, karena tidak kuat lagi mengangkat kungkung. Padahalsaya sudah pakai korset.” Papar Juli, pinggangnya nyeri. Akhirnya Juli mengundurkan diri karena tak kuat merawat suami-istri tersebut. Ia tak peduli, walau gajinya siap dinaikkan lumayan besar. Tahap selanjutnya, ia dapat pekerjaan merawat warior berusia 96 tahun tapi masih sehat dan hiperaktif. Juli senang merawatnya dan menambah pengalaman kerjanya.

Tips Mencuci Rambut, Membersihkan Lubang Telinga, Potong Kuku dan Mandi
Dalam kesempatan ini Juli berbagi tips merawat kebersihan warior nonstroke.

Cara merawat warior nonstroke, kebersihan badan harus dijaga. Antara lain, mencuci rambut dilakukan 2 x sdalam seminggu. Stepnya sebagai berikut: (1) Warior dibaringkan; (2) Sumpal telinga dengan kapas, untuk mencegah air masuk; (3) Baringkan dengan menaruh posisi bantal di bawah bahu hingga kepala mendongak ke bawah; (4) Pasang plastik di bawah bahu dengan lipatan segitiga, ujung segitiga masuk ke dalam ember untuk tampungan air basuhan; (5) Pasang handuk kecil di dahi, melingkar hingga ke telinga; (6) Basahi rambut secara pelan-pelan dengan air hangat (di sesuaikan dgn cuaca ); (7) Beri sampoo pijat dari depan ke belakang ,pijat kulit kepala dengan perlahan; (8) Bilas, lalu lakukan sekali lagi; (8) Keringkan dengan handuk dan keringkan segera dengan hairdryers. Jangan membiarkan rambut dan kulit warior terlalu lama basah dan jika sudah selsai (9) Bangunkan, pijat leher dan bahu selama lima menit untuk memberikan efek relax.

Tips selanjutnya, cara ,membersihkan lubang telinga. Alat-alat yang digunakan senter kecil, cotton bud, baby oil untuk membersihkan lubang telinga. Taharapannya sebagai berikut: (1) Baringkan warior dengan posisi miring; (2) Korek lubang telinga secara perlahan dengan penerangan senter kecil; (3) Lakukan setelah mandi; (4) Bersihkan dua kali minggu dan (5) dibersihkan dengan cotton bud yang telah di basahi dengan baby oil.

Berikutnya, memotong kuku. (1) Rendam kaki warior di dalam ember dengan air hangat selama 10 menit hingga kuku melembab; (2) Potong perlahan dan hati-hati; (3) Untuk memotong kuku tangan juga di rendam sebentar dan (4) Oleskan cream setelah selesai pemotongan.

Cara memandikan warior ,jangan langsung mengguyur tubuhnya. Pertama-tama, ,basahi dulu kakinya. Selanjutnya, bersihkan,bersihkan wajah dengan handuk cotton kecil, telinganya, baru badannya. Waktu memandikan, ,kita menggunakan sarung tangan kain untuk menggosok badannya. Pilih sabun yang digunakan untuk bayi.

Selamat menyayangi warior!
Tunggu terbitnya buku karya Juli.

Penulis: Naning Pranoto
Foto : Koleksi Juli


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Close
    [contact-form-7 404 "Not Found"]
    Pioneer Creatitive Writing By Zoom
    Inspirasi Nulis Prosa dan Puisi