Komunitas Alumi Sekolah Dhammasavana Jakarta: Bukan Sekadar Emas Lima Gram

Para Guru dan Mantan Murid menjalin temali  kasih yang sangat erat


Dhammasavana – artinya Menyiarkan Kebenaran, khususnya untuk pendidikan ilmu pengetahuan, pendidikan moral dan pendidikan kecakapan hidup, demikian prinsip yang dicetuskan oleh Handa Kartawidjaja alias Lo Liong Hoa, sebagai pendiri Sekolah Buddhis yang berlokasi  di Jembatan Dua Jakarta Barat. Pria yang berpembawaan ramah, energik dan tak mengenal lelah itu merasa bahagia karena mantan murid-murid asuhannya sangat menghormati para gurunya yang telah memasuki usia warior.

“Mereka itu bergabung dalam Komunitas Alumi  Sekolah Dhammasavana yang saya dirikan akhir tahun tujuh-puluhan,” tuturnya, mengawali kisah terbentuknya alumni yang membanggakannya itu.

Handa Kartawidjaja bersama istrinya, Indriawati Tjahjadi

Sejak kecil Handa yang alumi Sekolah Pa Hoa telah jatuh cinta pada dunia pendidikan karena terinspirasi oleh beberapa tokoh yang melekat di sanubarinya.  “Saya mengagumi filosofi Ki Hajar Dewantara,” ia menyebut nama Tokoh Bapak Pendidikan kita. Selain itu, ia mendengar kisah kakeknya dari pihak ayah yang datang dari Tiongkok adalah guru yang penuh dedikasi dan dicintai  banyak orang. “Saya juga sangat salut dan mengidolakan jejak dedikasi Dokter  Kwa Tjoan Sioe pendiri Rumah Sakit Husada. Ketika saya mengantar ibu saya berobat ke rumah sakit itu, saya amati patung Dokter Kwa Tjoan Sioe dan saya berkata – saya ingin seperti dia – bekerja dengan penuh dedikasi untuk orang yang membutuhkan.” Kenang Handa.

Tekadnya pun ia wujudkan ketika baru lulus SMA awal tahun 70-an. Ia menggandeng mantan gurunya untuk diajak mendirikan Taman Kanak-Kanak. Sasaran muridnya adalah dari kalangan menengah ke bawah. Tak lama kemudian ia mendirikan SMP dan SMA yang dikelolanya berdasarkan metta (cinta kasih) dan bakti kepada orangtua. Selain itu ia menerapkan sikap toleransi. Maka dari itu guru-guru dan murid-muridnya mempunyai latar belakang beragam: agama, suku, golongan dan juga strata ekonomi. “Semua kami perlakukan sama dan menjadi Keluarga Besar Dhammasavana. Maka dari itu, sekolah yang saya dirikan menjadi rumah kedua bagi para guru dan murid-murid. Hubungan antar guru dan murid bersifat kekeluargaan. Begitu pula bagi murid yang telah lulus, menyelesaikan pendidikan di Dhammasavana tetap menjalin tali kasih dengan kami.”  Mata Handa berbinar-binar.

“Murid-murid itu menganggap kami sebagai orangtuanya. Ada apa-apa mereka curhat walau sudah lulus dari sekolah kami,” Indriawati Tjahjadi – istri Handa, menimpali. “Para orangtua murid juga sangat dekat dengan kami.” Tegasnya.

Kedekatan tersebut bisa terjalin karena sistem pendidikan yang diterapkannya yaitu semangat metta dan berbakti kepada orangtua yang diajarkan secara rasa dan penerapan melalui simbol-simbol, antara lain mencuci kaki para orangtua dan berdoa bersama. Rasa dan terapan tersebut menjadi terpatri dalam sanubari masing-masing murid. Maka bagi para murid yang telah lulus dari Sekolah Dhammasavana tetap menjalin hubungan dengan para gurunya.

“Dengan adanya media-sosial seperti facebook, membuat alumi kami makin saling dekat dan erat. Sehingga mereka bisa berbuat banyak untuk berbakti pada mantan para gurunya, bahkan juga memberi  perhatian pada penjual gado-gado depan sekolah yang jadi langganan mereka,” papar Handa. “Padahal, banyak mantan guru dan juga penjual gado-gado yang tidak aktif lagi. Para alumni mencarinya dan kala  kami reuni semua diberi penghargaan – tanda bakti.” Sambungnya.

“Para alumi memberi penghargaan kepada mantan guru-gurunya antara lain berupa lencana emas lima gram. Para guru yang sakit mereka bantu berobat. Mereka kompak iuran, walau sebetulnya ada guru yang dulu tidak mengajar mereka tapi tetap mereka bantu.” Indriawati mengisahkannya dengan penuh haru.

“Saya sungguh tidak hanya bangga dengan keberhasilan dan kemandirian mereka, tapi akan sikapnya yang penuh metta – berbakti pada sesama. Kemuliaan hati para alumni sekolah kami semoga terus bersinar.”  Harapan Handa bergelora.

Walau kini usia Handa tak muda lagi, tapi semangatnya untuk terus berprestasi tiada henti. Ia bersama istrinya membimbing kedua putranya, Revata Kartawidjaja dan Devata Kartawidjaya untuk ikut  mengelola Dhammasavana agar misinya terus menyala sebagai suluh pendidikan bersumbu metta.

 

Penulis   : Naning Pranoto

Foto        : Naning Pranoto dan Koleksi Handa Kartawidjaja

 


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


1 thought on “Komunitas Alumi Sekolah Dhammasavana Jakarta: Bukan Sekadar Emas Lima Gram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]