Kisah Berhikmah | Belajar Jadi Mimi Lan Mintuna dari Bandung

Wahai…. wahai…. Dengarlah engkau dua orang tua yang selalu bergandengan dan bercinta, sementara siang dan malam berkejaran dua abad lamanya. Wahai  wahai dengarlah! Aku memanggilmu. Datanglah berdua bagai dua ekor burung dara. Akan kukirimkan kereta kencana untuk menjambut engkau berdua. Bila bulan telah luput dari mata angin, musim gugur menampari pepohonan, dan daun-daun yang rebah berpusingan…(Ionesco, “Kereta Kencana”).

Kutipan di atas adalah prolog sebuah drama terkenal karya Eugene Ionesco berjudul “Les Chaises” yang diterjemahkan menjadi “Kereta Kencana” dan dimainkan oleh W.S. Rendra dan istrinya, Ken Zuraida. Drama yang  menceritakan sepasang suami istri yang saling mencintai sampai usia senja. Kisah cinta kakek nenek tersebut mengingatkan kita pada kisah cinta Mimi & Mintuna.

Apa dan siapakah Mimi lan Mintuna itu? Dari salah satu web https://www.greeners.co/­flora-fauna//, dijelaskan bahwa Mimi adalah nama belangkas (horseshoe crab, kepiting tapal kuda) berkelamin jantan, sedangkan Mintuno adalah belangkas berkelamin betina. Kedua spesies ini mempunyai bentuk fisik yang hampir sama, hanya pada hewan betina bagian depan tubuhnya (anterior prosoma) agak lebar dan dipenuhi ribuan telur, sedangkan yang jantan bagian depan lebih kecil. Karena memiliki tubuh yang beruas-ruas, maka mimi mintuno dimasukkan ke golongan arthropoda. Kisah cinta Mimi lan Mintuna sangat terkenal dalam masyarakat Jawa, sehingga filosofi Jawa mengibaratkan Mimi dan Mintuno merupakan sepasang hewan sejoli yang terkenal setia sehidup-semati. Dalam budaya Jawa, sering terucap doa untuk pasangan yang menikah berbunyi “Dadio pasangan koyo mimi lan mintuno” artinya jadilah pasangan suami istri yang awet/setia seperti mimi dan mintuno.

Ini adalah kisah tentang Mimi Lan Mintuna yang ada di Bandung. Sepasang kakek-nenek usia 81 dan 75 tahun yang saling mencintai dan melayani satu sama lain. Mereka adalah Pakde dan Bude Suripto dan Nuriyah. Keduanya masih sehat dan tampak bugar. Dari pohon keluarga penulis, beliau saya panggil Pakde dan Bude. Pakde Suripto adalah kakak sepupu ibuku. Lahir di Desa Kaliwatubumi, Kabupaten Purworejo di era 1940-an. Ayahnya seorang Kepala SD di Desa Kaliwatubumi yang sudah ada sejak zaman Penjajagan Belanda. Mungkin Pakde Suripto adalah satu-satunya anak desa yang di tahun 1950-an merantau dari desa untuk sekolah SMA 1 di Kota Yogyakarta, yang berjarak sekitar 70 Km, sebelum akhirnya masuk Sekolah Penerbangan dan menjadi Angkatan Udara dan menikmati masa tuanya di Bandung. Waktu saya masih kecil, saya ingat ibu saya sering menceritakan kakak sepupunya itu, untuk memotivasi kami agar rajin belajar dan menjadi orang pandai dan sukses seperti pakde.

Pakde dan Bude Suripto masih mesra sampai Warior (sumber foto https://www.facebook.com/nuriyah.suripto)

Era sosial media mempertemukan kami kembali. Setelah terputus kontak selama hampir 45 tahun, akhirnya saya menemukan beliau melalui facebook. Bermula dari jejaring facebook yang mempertemukan saya dengan salah satu kakak sepupu ibuku yang telah lama tinggal di Maryland, Amerika Serikat, karena suaminya bekerja sebagai staf di KBRI Washington DC. Dari komunikasi dengan Bude Ning itulah akhirnya saya ketemu dengan Bude Nung (Nuriyah) sampai akhirnya Bude bilang, awal tahun ajaran baru 2018 salah satu cucunya dari putri tertuanya, Mbak Lissa mau diterima kuliah di Prodi Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dengan koordinasi jarak jauh Pakde dan Bude mempertemukan saya dengan anak cucunya. Saya baru bisa ketemu secara langsung dengan Pakde dan Bude di rumahnya di Bandung, akhir November 2018. Selama hampir 4 jam saya pun banyak menyimak kisah kenangan masa kecil dan remaja Pakde di desa sampai akhirnya Pakde merantau dan bermukim di Bandung.

Ada pelajaran yang sangat berharga yang saya dapatkan dalam kunjungan singkat tersebut. Keharmonisan dan cinta Pakde dan Bude yang benar-benar seperti Nini Lan Mintuna. Mbak Lissa, anak tertuanya mengatakan, “Papi itu orangnya selalu penuh perhatian dan cinta tidak hanya ke Mami, tapi juga ke anak-anak dan cucu-cucunya. Mami atau Papi setelah sepuh,  kalau kemana-mana harus berdua. Tidak mau salah satunya ditinggal.”  Karena penasaran, saya tanya ke Mbak Lissa. “Papi  Mamimu nggak pernahkah terlibat berdebatan dan beda pendapat?”. Mbak Lissa pun menjawab, “Tentu pernah, tapi kalau itu terjadi endingnya Papi yang akan mengalah, setelah memberikan penjelasan dengan lemah lembut. Papi hampir tidak pernah marah.” Apa yang dikatakan Lissa dapat kusaksikan sendiri, ketika kami menikmati sholat magrib berjamaah dan makan malam bersama. Setelah selesai sholat, Pakde langsung memimpin doa bersama, diakhiri dengan saling jabat tangan, berpelukan dan cium pipi kanan dan kiri. Ini luar biasa bagi saya. Karena biasannya dalam keluarga kecil saya, habis sholat jamaah kami hanya doa bersama dan saling jabat tangan, kadang-kadang dilanjutkan saling introspeksi, tanpa berpelukan dan cipika-cipiki.

(Lissa, Pakde & Bude Suripto, saya dalam reuni singkat di rumah beliau di Bandung, akhir November 2018)

 

Dari Pakde dan Bude kita bisa belajar untuk saling mencintai dengan pasangan sepanjang usia. Mereka telah menikah lima puluh tahun lebih. Sudah melewati gold universary, tapi tetap tampak mesra saling mencintai dan menyayangi bak Mimi Lan Mintuna. Andai semua orang tua seperti beliau berdua. Betapa indahnya hidup ini. Anak cucu mendapatkan contoh yang sangat baik. Anak cucu akan malu kalau sering bertengkar dan menang sendiri. Tetap sehat selalu Pakde dan Bude. Pakde dan Bude juga memberikan contoh bagaimana menjalani fase Warior secara sehat dan riang gembira. Mereka tinggal bersama dua anak laki-lakinya yang belum menikah tanpa dibantu pembantu rumah tangga. Apa pun dilakukan secara bersama-sama. Mereka menunjukkan pada kami, yang masih kuat dan muda, agar tidak manja, selalu minta dilayani orang lain, ternasuk pembantu dan anak cucunya.  Ini luar biasa.

Tetaplah bergandengan tangan menyusuri pematang usia, diiringi matahari yang berjalan pelan kearah Barat. Biarkan kami anak cucumu menikmati dongeng-dongeng indahmu tentang masa kecil dan perjalanan mengarungi belantara, cakrawala, dan samudra dengan gagah berani dan riang gembira.

 

Yogyakarta, 25 April 2019

Penulis: Wiyatmi, Yogyakarta.

 


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]