Kartini Nurdin | Buku dan Olah Pikir Manusia yang Selalu Baru

Incipit vita nova

Di sinilah mulai sebuah kehidupan baru

(Dante, 1265 – 1321, Penyair Itali)

*

Ciri khasnya empat S: sumeh (murah senyum), santun, santai tapi serius! Itulah Kartini Nurdin, perempuan kelahiran Pacitan yang hidupnya ‘berkubang’ buku. Sejak usia dua-puluhan tahun ia telah aktif berkecimpung di perbukuan. Maka, nama dan kiprah Kartini Nurdin begitu eksis di perbukuan Indonesia, baik di bidang penerbitan, hakcipta karya, organisasi penerbitan, pemasaran dan promosi buku di dalam negeri hingga ke mancanegara.

“Bagi saya, bekerja di perbukuan seperti memulai kehidupan baru di setiap hari. Karena banyak diwarnai dengan membaca naskah-naskah yang baru selesai ditulis, berdiskusi antar tim kerja maupun mitra kerja. Tukar menukar ide, mendapat berbagai ide baru membuat olah pikir tiada henti. Tentu, sangat menyenangkan dan membuat hidup ini terus punya nilai tambah . ” Demikian pendapat ibu dari empat putra-putri itu.

Mochtar Lubis

Belajar dari Mochtar Lubis

Selalu ada yang baru, demikian pengalaman saya jika berjumpa dengan Kartini Nurdin yang lebih dari satu dasawarsa memimpin Penerbit Pustaka Obor Indonesia, salah satu penerbit di Indonesia yang menerbitkan buku-buku ilmiah dan sastra. ‘Baru’ yang dimaksud di sini bukan sekadar buku yang baru diterbitkannya, tapi juga jaringan kerjasama lintas antar negara untuk pengembangan dan pengkayaan buku-buku iptek, budaya dan sastra yang merupakan ‘ruh’ dari misi-visi yang diembannya. Antara lain bekerjasama dengan India, Amerika Serikat, Amerika Latin, Mesir, Saudi Arabia, Korea Selatan, Bosnia, Spanyol hingga beberapa negara di Afrika. Sehingga buku-buku terbitan Pustaka Obor Indonesia menjadi bak sumur ilmu pengetahuan tanpa dasar untuk ditimba. Konten bukunya selain hasil penelitian dibidang humaniora, bahasa, pelestarian lingkungan, kebudayaan hingga sastra.

“Semuanya itu yang merintis Bapak Mocthar Lubis. Kami sekarang ini melanjutkan dan mengembangkannya sesuai dengan tuntutan zaman untuk kemajuan anak bangsa. Memang itulah misi-visi Pustaka Obor Indonesia didirikan.” Papar Kartini Nurdin dengan penuh semangat.

Baginya, Mochtar Lubis (1922 – 2004) adalah mahagurunya. Pria kelahiran Padang Sumatera Barat yang semasa hidupnya sebagai jurnalis, budayawan dan cendekiawan itu merupakan ‘ayah jiwanya’ – di mana ia bisa berumah untuk belajar banyak hal hingga membuatnya menjadi perempuan tangguh dan paham akan pentingnya ilmu pengetahuan yang didasari adab untuk menjalani hidup sebagai makluk sosial dan makluk ekonomi.

“Pak Mochtar mengajarkan kepada kami bahwa dasar kehidupan itu adalah kesetaraan. Dengan adanya kesetaraan, semua orang mendapatkan hak-haknya sebagai manusia dan hak hidupnya yang tidak sekadar makan tapi juga mendapat pendidikan yang layak, eksistensi dan berkarya. Laki-laki dan perempuan punya hak yang sama untukmaju dan berkembang. Praktik patriarki menjadi tidak dominan.” Tegasnya.

Prinsip itulah yang membuat Kartini Nurdin melangkah mantap dan aktif ikut berperan mengembangkan dunia perbukuan melalui Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan menegakkan hukum atas kepemilikan hakcipta bagi para intelektual dan pengarang Indonesia melalui Perkumpulan Reproduksi Cipta Indonesia (PRCI). Lebur bersama dua organisasi itulah ia berkiprah utuk ikut memperjuangkan terbitnya buku-buku bermutu dengan harga murah tanpa melanggar ranah hakcipta.

Memiliki Lebih dari 1000 Pena

Kartini Nurdin, bersama sebagian Penulis dan Sastrawan. Paling kanan: Hanna Rambe

Tak bisa dipungkuri bahwa menjalankan usaha di bidang penerbitan di negeri kita tercinta ini bukanlah hal yang mudah. SDM di bidang kepenulisan masih belum memadai dengan materi bacaan yang diperlukan sebagai sarana pendidikan, asah ketrampilan maupun hiburan. Faktor tersebut sangat mungkin karena kurangnya pendidikan dan pelatihan untuk pengembangan SDM di bidang kepenulisan, selain imbalan bagi mereka belum bisa diandalkan sebagai sumber nafkah sepenuhnya. Faktor yang terkait adalah tingginya biaya produksi dan jaringan distribusi membuat lemahnya daya beli masyarakat terhadap buku. Yang menjadi kambing hitam adalah masyarakat yang disebut-sebut sebagai ‘masyarakat yang malas membaca’.

Nah, mana yang benar? Kondisi inilah yang menantang Kartini Nurdin tak henti bekerja dan terus menjalain hubungan kerjasama dengan penulis maupun pengarang.

“Sampai saat ini ada penulis dan pengarang di dalamnya termasuk sastrawan sebanyak seribu lebih yang menerbitkan bukunya di Pustaka Obor,” kata Kartini dengan riang.

Dari jumlah tersebut terdapat para warior masih terus produktif, baik itu ilmuwan maupun sastrawan. “Ibu Hanna Rambe usianya hampir delapan puluh tahun masih aktif menulis novel.” Tutur Kartini dengan penuh spirit, “Dari pengamatan saya, mereka yang banyak menulis dan membaca daya pikirnya bagus dan juga geraknya dinamis. Olah pikir tiada henti dampaknya positif sekali pada kesehatan jiwa selain mampu berprestasi. Spirit inilah yang ingin terus saya bangun untuk diri saya agar terus bisa bekerja.” Tegasnya.

Baginya, bekerja tidak semata-mata mencari uang. Bagi Kartini, bisa melakukan alih profesi bagi generasi muda adalah kebahagiaan yang tiada tara. Makanya, ia selalu menyemangati tim kerjanya, khususnya anak-anak muda agar terus mengembangkan karirnya. “Saya tekankan pada mereka bahwa untuk meraih sukses itu tidak hanya cukup pandai saja, tapi juga harus bisa membawa diri – menghargai orang lain adalah sangat penting. Faktor hubungan pada sesama jangan diabaikan. Secara ekonomi ya…kita harus kerja secara profesional, bisa kerja dalam tim, disiplin dan tak henti menyesuaikan diri dengan kemajuan iptek. Saya pribadi tak mau gaptek ya belajar dari yang muda-muda. Tak usah malu.” Pungkasnya.

Teks : Naning Pranoto

Foto : Koleksi Yayasan Pustaka Obor Indonesia Jakarta


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]