Gaya Hidup Sehat Warior | Rahasia Panjang Umur Ayah-Ibuku

Penulis: Dr. Ratnaika Wahdini


Bapak saya lahir di Tuban , Jawa timur tahun 1940. Ibu saya  lahir di Surabaya tahun 1942. Jadi saat ini Bapak berusia 79 tahun dan Ibu 77 tahun.  Mereka menikah pada bulan November tahun 1966 atau sekitar 52 tahun yang lalu .

Alhamdulillah pada usia yang cukup senior ini beliau berdua masih tetap sehat dan tetap rukun. Kadangkala ada pasien saya yang beranggapan bahwa mereka bisa sehat sampai usia tua karena punya anak dokter.  Padahal  sesungguhnya tidaklah demikian. Sebagai manusia biasa tentu beliau berdua pernah sakit dan punya titik lemah pada kesehatannya. Bapak pernah mengidap hepatitis sejak usia muda dan Ibu punya riwayat alergi yang berat.

Adanya gangguan kesehatan di usia muda dengan kondisi ekonomi yang tak menentu pada saat itu , apalagi saat itu mulai lahir saya dan dua adik saya membuat Bapak dan Ibu berkomitmen untuk lebih menjaga kesehatan. Maklumlah meskipun beliau adalah PNS yang memiliki asuransi kesehatan (ASKES) tapi tak semua layanan dijamin asuransi . Sehingga lebih baik berusaha untuk tidak sakit.

Inilah foto keluarga kami, saya posisi di tengah

Apa upaya yang selama ini mereka lakukan?  Yang pertama,  makan dan minum sesuai dengan kebutuhan. Selalu ada sayur dan buah pada menu sehari hari. Bahkan bila ada acara resepsi yang sekiranya hidangannya prasmanan dengan aneka jenis makanan,  beliau berdua  memilih makan dulu di rumah sehingga saat di acara hanya sekadar ambil satu dua jenis hidangan karena sudah kenyang. Sehingga jenis makanan yang mereka konsumsi bisa dibatasi .

Yang ke dua,  rajin beraktivitas.  Meskipun di rumah ada asisten rumah tangga , tapi banyak pekerjaan rumah tangga yang dikerjakan sendiri selagi bisa . Beliau berdua hobby olahraga saat masih muda dan setelah tua olahraga yang dilakukan rutin adalah jalan kaki.  Seringkali beliau berdua berjalan kaki ke Pasar yang jaraknya antara 1-5 Km dari rumah untuk belanja atau makan di sana , pulangnya baru naik becak atau kendaraan lainnya.

Yang ketiga,  memeriksakan diri ke dokter terutama bila ada keluhan. Mereka  mematuhi anjuran yang diberikan oleh dokter. . Jadi bila dokter melarang untuk makanan tertentu atau melakukan sesuatu atau meminta untuk control dan terapi rutin,   beliau berdua pasti menurut, baik yang memerintahkan adalah dokter langganan keluarga kami maupun belakangan kepada saya karena saya dokter umum. *

Kalau saya amati , selama ini apa yang dilakukan orangtua saya sangat sesuai dengan program pemerintah saat ini yaitu Gerakan masyarakat menuju sehat (GERMAS) yang saat ini diutamakan adalan makan sayur dan buah, berolahraga teratur dan memeriksakan diri secara teratur . Itulah sebabnya sampai sekarang beliau berdua jarang menderita sakit yang berat. Memang karena usia sudah lebih dari 60 tahun  , yang namanya linu, asam urat atau kolesterol  tinggi pasti ada tapi bisa diatasi dengan obat sederhana . Saat ini beliau masih aktif dan bisa melakukan kegiatan secara mandiri  termasuk bepergian ke luar kota sendiri.

Kalau sebelumnya masalah kesehatan raga untuk kesehatan jiwa juga ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi kesehatan beliau berdua. Yang pertama adalah berpikir positif dan selalu semangat . setahu saya banyak sekali masalah dalam hidup kami , sama dengan keluarga yang lain tapi bisa dihadapi dengan tenang  oleh orang tua saya. Contoh kecil saat kami kemalingan , beliau hanya mengatakan mungkin belum rejeki dan malingnya lagi butuh banget uang , kalau rejeki pasti akan dapat ganti lebih baik . Tetap lapor Polisi dan melakukan tindakan pencegahan agar hal tersebut tak berulang  tapi tidak meributkan lagi setelah itu . Hidup berjalan seperti biasa lagi .

Yang kedua adalah hubungan antara Bapak dan Ibu sebagai suami istri kalau saya amati lebih mirip dengan hubungan pertemanan. Mungkin karena memang semula berteman di tempat kerja . Saling mengingatkan , berdiskusi,  bekerjasama dalam segala hal, termasuk pekerjaan rumah tangga karena Ibu saya juga bekerja . Jarang sekali terlihat bertengkar di hadapan kami meskipun kalau berselisih pendapat memang sering. Tidak pernah ada salah satu yang mau menang sendiri. Mungkin ini yang membuat hubungan beliau berdua selama ini baik baik saja .

Yang ketiga adalah kesukaan beliau berdua bersosialisasi baik secara kekeluargaan maupun berorganisasi. Sampai saat ini Bapak masih mengkoordinir teman Pensiunan bila ada acara , dan yang hebat adalah selalu membuat proposal bila menyelenggarakan acara. Kalau untuk silaturahmi seperti mengunjungi yang sakit, takziyah atau menghadiri acara yang lain , beliau berdua sangat aktif . Prinsipnya lebih enak mendatangi daripada didatangi. Karena yang bisa mendatangi,  pasti kondisinya lebiih baik daripada yang didatangi .

Yang ke empat adalah beliau berdua selalu mendorong kami putra putrinya untuk bertanggung jawab pada diri dan keluarga masing masing. Beliau menolak untuk dibebani tanggung jawab mengurus cucu setiap hari karena itu adalah tanggung jawab kami. Kalu sesekali dimintai tolong memang tidak masalah ,tapi bukan akhirnya menjadi kewajiban. Alasannya adalah agar beliau bisa menikmati aktivitas di usia senja dengan santai tidak diburu hal hal yang bukan jadi kewajiban utama. Bisa jalan jalan, ikut pertemuan, ikut pengajian dengan tenang.  Pada awalnya  kami sebagai anak sih sempat kerepotan karena harus cari cara sendiri untuk pengasuhan anak dan lainnya  tapi ternyata dengan begitu kami akhirnya bisa juga mengatasinya.

Hal hal yang saya sampaikan tadipun memang sangat erat hubungannya dengan kesehatan  . Adanya masalah psikologis tentu juga berdampak pada kesehatan badannya. Misalnya penyakit seperti darah tinggi , stroke , jantung sangat dipengaruhi oleh kondidi lelah dan banyak pikiran.  Banyak pasien yang saya periksa dengan  penyakit tersebut yang penyebabnya adalah terlalu banyak yang dipikirkan, kecapekan mengasuh cucu atau karena tidak ada aktivitas lain yang dikerjakan selain hanya menjalani kehidupan sehari hari . Termasuk keluhan bahwa sejak anaknya sudah berkecukupan , orangtua tidak boleh bekerja yang menbuat bertambah stress karena menganggur.

Intinya adalah untuk usia lansia tetap harus beraktifitas tapi tanpa target yang terlalu ketat. Tidak boleh memaksakan diri. Boleh memikirkan permasalahan tapi tidak boleh  terlalu mendalam, pasrahkan saja pada Allah bila masalah terlalu berat. Bersosialisasi dengan cara yang disukai agar bisa berbagi dengan orang lain.


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]