Berprestasi Tiada Henti | Ilmu Padi Taufiq Ismail

Penulis: Maman S Mahayana – Kritikus Sastra


Begitulah Taufiq Ismail, seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk!

Nama Taufiq Ismail, saya tahu dari buku-buku pelajaran sastra di SMA. Dari beberapa puisinya yang terdapat dalam buku Tirani dan Benteng—sebutlah dua di antaranya, “Sebuah Jaket Berlumur Darah” dan “Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya,” saya membayangkan perjuangan mahasiswa dalam gerakan Tritura—Tiga Tuntutan Rakyat*) dan Taufiq Ismail menjadi saksi bicara dalam peristiwa itu.

Ketika saya diterima sebagai mahasiswa UI dan berkesempatan memasuki lorong-lorong Fakultas Kedokteran atau fakultas lainnya di Kampus Salemba, kerap saya merasakan suasana gaib memancar entah dari mana. Di sana, ada aura yang melekat pada spirit dan renjana (passion) untuk mencintai Indonesia. Inilah kampus perjuangan yang telah mengantarkan salah seorang putra terbaiknya gugur. Dialah Arief Rahman Hakim yang namanya dijadikan sebagai nama masjid di kampus itu. Arief Rahman Hakim pergi meninggalkan kita tepat sehari menjelang ulang tahunnya yang ke-23 (lahir di Padang, 25 Februari 1943, meninggal di Jakarta, 24 Februari 1966). Tetapi namanya tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Jika selepas bersembahyang di masjid itu, saya tepekur di sana, lalu ingatan jatuh pada puisi Taufiq Ismail, sering kali saya digoda untuk membayangkan, siapakah gerangan tiga sosok bocah yang mengantarkan “Karangan Bunga” itu?

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba

Sore itu

‘Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka

Bagi kakak yang ditembak mati

Siang tadi.’

Sebuah puisi yang tampak sederhana, dengan bahasa sederhana, dan dengan ekspresi yang juga sederhana. Dalam segala kesederhanaannya itu, tersimpan peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah perkembangan bangsa kita. Itulah yang disebut kesederhanaan dan kedalaman. Di balik larik-larik sederhana, ada kedalaman makna.

Oh, betapa hebatnya puisi itu mengganggu pikiran seseorang. Aneh memang. Tetapi, begitulah. Nama masjid itu jadi hidup ketika ia dicantelkan pada peristiwa lain yang pernah kita kenal. Puisi “Karangan Bunga” menjelma jadi catatan sejarah. Maka, ketika kita menghidupkan peristiwa dalam teks puisi itu, pikiran dan asosiasi kita tergoda dan melayang ke mana-mana mencari cantelan. Kita coba pula mengingat nama penyairnya.

Pada awal tahun 1980-an, penyair yang sering tampil dalam hiruk-pikuk demonstrasi mahasiswa adalah Rendra. Si Burung Merak itu piawai mengobarkan semangat perjuangan para mahasiswa. “Tak ada kata jera dalam Perjuangan” adalah slogan yang terus didengungkan dalam gerakan mahasiswa berjaket kuning. Tetapi, saya tak kunjung jumpa dengan Taufiq Ismail. Selepas kampus Rawamangun pindah ke Depok, satu-dua kali, dalam beberapa kegiatan mahasiswa, saya jumpa Taufiq Ismail. Tetapi sekadar sebagai penonton. Meski begitu, citra Taufiq Ismail sebagai salah seorang tokoh dalam gerakan mahasiswa tahun 1966, tetap hidup dalam ingatan. Sebuah gambaran tentang sosok pejuang yang gigih, tangguh, dan keras kepala. Itulah yang membuat saya agak segan jika hendak mendekatinya.

Awal Pertemuan

Dalam sebuah kegiatan sastra di Pulau Penyengat, Riau—mungkin tahun 1990, takdir membawa saya pada perjumpaan tak terduga. Saya bertemu dengan Taufiq Ismail –dan sejumlah penyair lain, seperti Sutardji Calzou Bachri, Slamet Sukirnanto, Ediruslan Pe Amanriza, Taufik Ikram Jamil, dan beberapa penyair Malaysia dan Singapura. Untuk pertama kalinya, saya berkesempatan berbincang dengan Taufiq Ismail. Ia mengatakan, bahwa ia hendak menegakkan kembali majalah sastra Horison yang sudah terseok-seok. Pak Taufiq meminta saya menulis tentang Raja Ali Haji, sebuah tawaran yang sungguh membanggakan. Entah mengapa, citra Taufiq Ismail yang mendekam dalam ingatan, tidak sesuai dengan kenyataan yang saya hadapi kini. Boleh jadi saya terlalu jauh membayangkan Taufiq Ismail muda. Sosok mahasiswa yang heroik dan berbicara lantang sambil meneriakkan kemarahannya pada tirani—sebagaimana yang saya bayangkan ketika saya menghadapi puisi-puisi Tirani dan Benteng. Kini semua itu seketika seperti hilang begitu saja. Saya takjub, mungkin terpesona. Taufiq Ismail yang saya bayangkan dalam puisi-puisinya, berbeda sama sekali dengan kenyataannya.

Di hadapan saya, tampil manusia yang lembut, pendengar yang baik bagi mitra bicaranya, dan penuh empati. Kadang kala dia tanya ini-itu tentang persoalan pribadi. Taufiq Ismail mendadak berubah jadi senior yang penuh perhatian pada kemajuan juniornya. Meski tersurat Pak Taufiq Ismail meminta saya agar ikut membantu memajukan Horison, tersirat saya dapat menangkap, sikap seorang guru yang ingin membimbing dan membawa muridnya memasuki dunia yang lebih luas. Tidak ada kesan jumawa sedikit pun. Tidak ada sekat apa pun. Kami mengobrol mengalir begitu saja. Saya terharu, meskipun ketika itu saya tidak menunjukkan keterharuan saya. Tetapi hati tak dapat dibohongi. Hati ini pula yang kemudian menyimpan ketersentuhannya dengan rapi, sebagai kenangan pertama yang penting dalam hidup ini. Sikap rendah hati penyair besar, seketika menghancurkan keangkuhan. Arogansi dan kesombongan pun, malu rasa hendak menampakkan diri.

Itulah awal mula saya mengenal lebih dekat sosok Taufiq Ismail. Sebuah potret Manusia yang menghargai manusia sebagai manusia!

Mencintai Puisi, Mencintai Negeri

Pertemuan di Pulau Penyengat itu rupanya merupakan titik awal saya memasuki berbagai kegiatan yang diselenggarakan Taufiq Ismail bersama majalah Horison. Dari serangkaian pertemuan, obrolan santai, sampai ke pembicaraan serius tentang Indonesia, saya dapat menangkap, kecintaan Taufiq Ismail pada Indonesia melebihi apa pun. Bahkan, sebagai penyair, ia sering kali tampak lebih mencintai Indonesia daripada puisi, bidang yang diceburi secara total, lebih dari separoh hidupnya. Ini aneh. Tetapi, kesan itulah yang paling kuat, jika kita lebih jauh memasuki pemikiran dan sikap hidupnya. Bagaimana ia lebih mencintai Indonesia daripada puisi? Atau, kecintaannya pada Indonesia disalurkannya lewat puisi?

Dalam sebuah perbincangan, Taufiq Ismail menuturkan, bahwa puisi pertama yang dihasilkannya ketika ia masih duduk di sekolah rakyat.*) Ayahnya, K.H. Abdul Gaffar Ismail adalah ulama Muhammadiyah terkemuka yang bekerja sebagai guru dan wartawan koran lokal. Sebagai wartawan, sang ayah kerap membawa surat kabar itu ke rumahnya. Taufiq Ismail yang memang gemar membaca, tergoda pula membacai surat-surat kabar itu. Dari sanalah ia menemukan nama sang ayah: Abdul Gaffar Ismail, tercantum jelas di antara berita, artikel, dan tulisan-tulisan lain. Bagaimana bisa nama ayahnya tercantum di sana?

Keheranan itu lalu disampaikannya kepada sang ayah sambil bertanya, “Bagaimana caranya agar nama Taufiq Ismail tercantum di sana?”

“Tulislah puisi, nanti ayah kasihkan kepada teman ayah di kantor,” begitu pesannya. Maka setiap hari Taufiq Ismail kecil itu menulis puisi dan menyerahkan kepada ayahnya. Beberapa kali ayahnya berkata, “Belum bagus. Coba bikin lagi!” Entah yang ke berapa puisi yang ditulis Taufiq Ismail itu akhirnya dibawa sang ayah ke kantornya. Beberapa minggu kemudian, puisi itu terpampang di surat kabar bersama nama penulisnya: Taufiq Ismail.

Esoknya, surat kabar itu dibawa ke sekolah. Ia bermaksud memamerkan kepada teman-temannya. Ternyata teman-temannya sudah pada tahu, termasuk beberapa guru di sekolah itu. Terjadilah kehebohan. Peristiwa itulah yang mendorongnya ingin menjadi penyair.

Dalam catatan E.U. Krazt,*) puisi pertama Taufiq Ismail—tertulis namanya ketika itu, Taufiq AG Ismail— berjudul “Dadang Pemetik Kecapi Tua” dimuat majalah Siasat, Agustus 1954. Ini berarti, saat Taufiq Ismail berusia 17 tahun, mungkin kelas 3 SMP atau kelas 1 SMA, sebab tahun 1956—1957, ia mendapat beasiswa American Field Service Interntional School untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, Amerika.

Bagi siswa dari Indonesia, Taufiq Ismail tercatat sebagai angkatan pertama penerima beasiswa itu. Pada tahun 1955, beberapa puisinya dimuat berbagai surat kabar dan majalah terbitan ibu kota. Pada tahun berikutnya (1956), Kratz tidak menemukan puisi Taufiq Ismail. Baru pada tahun 1957 dan tahun-tahun berikutnya, puisi-puisinya dimuat di majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Sastra, Gema Islam, dan beberapa majalah lainnya.

Mimpi yang Membawa Jalan Hidup

Menurut penuturannya, ketika Pak Taufiq Ismail tinggal di Amerika Serikat mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, ia dipaksa bekerja keras membacai setumpuk buku—tentu saja semuanya berbahasa Inggris—dan membuat laporannya. Di antara duka lara karena tidak ada dispensasi apa pun bagi para siswa di sana, ia sedikit demi sedikit mempelajari khazanah sastra Eropa dan Amerika. Buku-buku puisi yang mendorong dan memelihara semangatnya untuk tidak menyerah! Baca, baca, baca! Tulis, tulis, tulis! Itulah kegiatan sehari-hari sepulang sekolah.

Pada saat liburan semester, induk semangnya menawarkan berbagai pekerjaan. Pak Taufiq memilih bekerja di sebuah ranch besar, peternakan sapi dengan padang rumputnya yang luas. Di situlah ia mengangkuti jerami, membersihkan kandang sapi, dan pekerjaan lain sebagaimana yang biasa dilakukan di peternakan. Pada saat beristirahat, ia dibuat begitu takjub. Sejauh mata memandang, terhampar lapangan rumput yang luas, tempat sapi-sapi itu berkeliaran. Saat itu, ia berkhayal. Suatu saat kelak, di salah satu daerah di Indonesia entah di mana, ia akan mendirikan sebuah peternakan yang kira-kira sama luasnya. Ia bayangkan, dari halaman bangunan kayu di pinggir padang rumput, dia memandangi sapi-sapi berkeliaran. Di tangannya secarik kertas dan pulpen. Itulah saatnya menulis puisi. Wow, menulis puisi! Puisi rupanya begitu kuat tertanam dalam pikirannya.

Begitulah kekuatan mimpi seorang pemuda bernama Taufiq Ismail: mempunyai peternakan dan di sana ia dapat dengan bebas menulis puisi. Bagi anak muda seusianya, tentu saja mimpi itu terasa aneh. Tetapi, berkat mimpi itu pula, seseorang dapat meneguhkan tekadnya, harapannya, cita-citanya. Oleh karena itu, ketika ia mendapat tawaran kuliah di IPB (yang ketika itu masih berada sebagai salah satu fakultas di lingkungan UI), ia tegas memilih Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan. Ia ingin mewujudkan mimpinya: menulis puisi sambil memandang padang rumput yang luas membentang. Tahun 1963, ia berhasil menyelesaikan kuliahnya, berhak menyandang gelar: dokter hewan. Ia lalu diangkat sebagai asisten dosen mata kuliah Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan UI.

Ketika itu, situasi sosial politik yang terjadi di Indonesia, begitu khaos. Taufiq Ismail termasuk salah seorang aktivis yang menentang seniman Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), sebuah organisasi seniman underbouw PKI. Penentangannya tidak hanya diungkapkan dalam sejumlah puisinya, melainkan juga dalam aktivitasnya terlibat langsung dalam gerakan perlawanan dan demonstrasi.

Dalam hal membela kemanusiaan dan kemarahannya pada rezim otoriter, sikapnya tegas. Oleh karena itu, dengan segala kesadarannya, ia ikut terlibat dalam penyusunan naskah Manifes Kebudayaan, sebuah pernyataan kebudayaan yang menolak kehidupan politik memasuki wilayah kebudayaan dan kesenian. Pada tanggal 1 Agustus 1963, naskah Manifes Kebudayaan ditandatangani oleh 19 seniman—budayawan Indonesia. Majalah Sastra, edisi September/Oktober 1963, memuat pernyataan itu. Harian Berita Republik, 19 Oktober 1963, juga ikut mempublikasikannya.

Begitulah, mimpi dan jalan hidup seseorang kerap tidak terduga. Taufiq Ismail masuk Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan lantaran mimpinya hendak membangun sebuah peternakan besar, agar ia bebas menulis puisi. Keterlibatannya dalam gerakan menentang rezim tirani dan kesadarannya menandatangani Manifes Kebudayaan, semata-mata, karena kecintaannya pada negeri ini. Ia ingin agar kehidupan kesenian dan kebudayaan di Indonesia dapat tumbuh sehat tanpa dikotori oleh kepentingan politik.

Pada saat yang bersamaan, Taufiq Ismail mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan studinya di Universitas Kentucky dan Florida, Amerika Serikat. Pada tanggal 8 Mei 1964, Presiden Soekarno melarang Manifes Kebudayaan. Apa yang terjadi pada Taufiq Ismail? Dua hari menjelang keberangkatannya ke Amerika, Taufiq Ismail dipecat sebagai dosen. Meskipun demikian, tiket ke Amerika sudah di tangan. Ia punya banyak kesempatan untuk meninggalkan Indonesia. Ibu angkatnya di Amerika, juga terus memaksanya agar kabur dari Indonesia. “Segala sesuatu sudah disiapkan. Kau tinggal berangkat! Jangan cemas. Amerika terbuka untukmu!” kira-kira begitulah pesan telegram dari Ibu Angkatnya di Amerika.

Jika saja ia memutuskan pergi bersama beberapa temannya ke Amerika, mudah saja ia melakukannya. Ia tidak hanya memegang tiketnya sendiri, tetapi juga tiket teman-temannya. Tetapi, jika pergi, ia seperti lari dari tanggung jawab kepada negeri yang dicintainya. Ia harus melawan, dan perlawanannya tidak dari negeri nun jauh di sana, tetapi dari Tanah Airnya sendiri. Sebuah keberanian memilih berjuang untuk bangsanya, tidak untuk dirinya sendiri!

Risikonya luar biasa! Selain dipecat, ia dilarang menulis. Oleh karena itu, ia pun menulis dengan menggunakan nama samaran. Persoalannya tidak berhenti di sana. Ia diteror, difitnah, diawasi, dan dilarang berkomunikasi dengan siapa pun! Orang-orang di lingkungan kampus atau di sekitar tempat tinggalnya, yang semula bersikap baik, tiba-tiba seperti ikut memusuhi. Ia dijauhi, dikucilkan, dan dianggap kontrarevolusi! Meski begitu, gerak fisik boleh dibatasi, tapi gagasan dan semangat perlawanan, tak ada yang dapat membendungnya. Maka, mengalirlah puisi-puisi perlawanan. Menentang tirani dari benteng yang diyakini benar.

Gerakan Sastra

Titik balik terjadi setelah peristiwa September 1965. Tetapi, Taufiq Ismail memilih berjuang di bidang kebudayaan—kesusastraan. Maka, pada Juli 1966, bersama Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman, ia mendirikan Yayasan Indonesia, yang kemudian melahirkan majalah sastra Horison (Juli 1966). Dalam perjalanannya, majalah Horison bergerak seperti kerakap tumbuh di batu, mati segan hidup tak mau. Sampai tahun 1995, majalah itu terbit dengan oplah tidak lebih dari sekitar 3000-an eksemplar.

Dalam keadaan begitu banyak pemikir pendidikan berkeluh-kesah tentang pengajaran sastra di sekolah. Sastra seperti terpencil dari masyarakatnya. Guna menjembati sastra dengan dunia pendidikan, Taufiq Ismail membuka rubrik kakilangit di majalah sastra Horison, akhir 1996. Majalah yang semula begitu angker bagi guru-guru dan para pelajar, tiba-tiba menyediakan tempat untuk mereka. Tidak hanya itu, di sana ada tulisan ringkas tentang riwayat sastrawan, proses kreatif, karyanya berikut ulasan karya bersangkutan. Rubrik itu, bagi guru-guru, tentu saja seperti obat pelepas dahaga. Mereka tak perlu repot cari bahan pembelajaran. Oplah Horison mendadak melonjak cepat, meningkat jadi lebih dari 15.000-an eksemplar. Berkat kegigihannya mencari penaja, lebih dari 5000 sekolah, gratis berlangganan majalah ini. Bagaimana dampaknya bagi para siswa? Setiap bulan redaksi menerima lebih dari sekitar 600-an puisi dan 50-an cerpen karya para pelajar dari seluruh Indonesia. Majalah Horison yang pada awalnya tak tersentuh para siswa, kini menjadi semacam gengsi bagi mereka jika karya salah seorang temannya dimuat Horison.

Bagaimana dengan guru-gurunya? Bukankah mereka ujung tombak yang memungkinkan siswa berkenalan dengan sastra? Jika para guru tidak pernah menulis, bagaimana mungkin siswa akan terdorong menjadi penulis dan mencintai sastra bangsanya sendiri? Atas dasar pemikiran itu, Taufiq Ismail mengusung hasil pengamatannya selama empat bulan (Juli—Oktober 1997) tentang pengajaran sastra di SMA 13 negara. Sebagai sebuah pengamatan, Taufiq sekadar membuat data kuantitatif. Itulah sebabnya, ketika hasil pengamatannya yang berjudul “Benarkah Kini Bangsa Kita telah Rabun Membaca dan Lumpuh Menulis?” dimuat bersambung di harian Republika, sejak 24 Oktober 1997, masyarakat dibuat terkejut.

Hasil pengamatan itu memperoleh respons yang baik dari para pecinta sastra. Bapennas melalui Depdikbud ikut membantu program yang ditawarkan Taufiq Ismail. Dari sinilah lahir program yang diberi nama Pelatihan MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra). Pesertanya guru bahasa dan sastra Indonesia di SMA. Di samping pelatihan, diselenggarakan pula lomba menulis cerpen dan kritik sastra bagi guru-guru seluruh Indonesia.

Selain Diklat MMAS dan lomba, lewat bantuan The Ford Foundation, Taufiq Ismail dan kawan-kawan menyelenggarakan dua program: (1) Sastrawan Bicara, Mahasiswa Membaca (SBMM) dan (2) Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya (SBSB). Program pertama membangun dialog antara sastrawan dan mahasiswa lewat karya-karya sastrawan yang bersangkutan, dan program kedua semacam jumpa sastrawan dengan siswa. Secara signifikan, program SBSB dalam tiga tahun itu (2000—2002), telah menjangkau lebih dari 100 sekolah di sekitar 25 provinsi, di dalamnya terlibat 100-an sastrawan dan 60.000-an siswa dan guru SMU.

Melalui program SBSB itu pula lahir sebuah langkah penting; menyusun antologi. Dari lembar-lembar yang tercecer fotokopian karya sejumlah sastrawan, dihimpunlah ke dalam buku yang bertajuk Dari Fansuri ke Handayani (2001), sebuah antologi yang memuat sejumlah puisi karya 79 penyair Indonesia. Menyadari bahwa buku itu perlu penambahan jumlah karyanya, tahun 2002 lahirlah empat serangkai Horison Sastra Indonesia 1 (Kitab Puisi), 2 (Kitab Cerita Pendek), 3 (Kitab Nukilan Novel), dan 4 (Kitab Drama), ditambah dengan Kaki Langit: Sastra Pelajar. Keempat antologi itu bolehlah dikatakan merupakan buku penting bagi perjalanan sastra Indonesia. Lebih daripada itu, kelima buku itu secara gratis dikirim ke lebih dari 1000 sekolah di Tanah Air.

Dengan Puisi Aku

Di antara kesibukan Taufiq Ismail dalam upayanya memajukan kehidupan sastra melalui berbagai kegiatan, sebagai penyair, pemikir, dan budayawan, ia tetap melaju: membaca dan menulis, nyaris tidak pernah lepas dari kesehariannya. Selalu disediakan waktu entah satu atau dua jam—atau lebih—untuk membaca dan menulis. Dan puisi sebagai pintu masuk, sekaligus pintu keluar menyuarakan berbagai gagasan, harapan, kecemasan, bahkan juga kemarahan dan rasa cintanya pada Indonesia. Perhatikan puisinya yang berjudul “Dengan Puisi Aku” yang boleh dikatakan merepresentasikan sikap dan kiprah hidupnya.

DENGAN PUISI AKU

Taufiq Ismail

Dengan puisi aku bernyanyi

Sampai senja umurku nanti

Dengan puisi aku bercinta

Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang

Keabadian Yang Akan Datang

Dengan puisi aku menangis

Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk

Napas zaman yang busuk

Dengan puisi aku berdoa

Perkenankanlah kiranya

Begitulah, melalui puisi Taufiq Ismail telah memberikan lebih dari separoh hidupnya. Suka, duka, berkelana, bersujud di hadapan Tuhan, menangis melihat masyarakat yang teraniaya, marah pada kebrengsekan, sambil terus melantunkan doa demi kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia. Lewat puisi, ia hidup dan berbuat. Lalu sejauh mana kiprahnya?

Empat jilid buku karya Taufiq Ismail berjudul Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit 1—4 (Jakarta: Horison, 2008)—seluruhnya berjumlah 3004 halaman—menegaskan segala sepak-terjang Taufiq Ismail sebagaimana diungkapkan tersirat dan padat dalam puisinya yang berjudul “Dengan Puisi Aku.” Sejauh pengamatan, keempat jilid buku itu boleh dikatakan merupakan sebuah rekor bagi ketebalan buku karya seorang penyair.

Tentu saja yang jauh lebih penting bukanlah perkara tebal—tipisnya buku, melainkan isinya; kedalaman dan gagasannya dalam mencermati dan memandang berbagai persoalan dan mengungkapkannya dalam berbagai ragam tulisan—prosa, puisi, drama, esai yang sedap dibaca. Adagium penyair yang baik adalah penulis esai yang baik, kiranya tepat disematkan pada Taufiq Ismail. Dari keempat jilid buku itu, kita dapat memandang sebuah lanskap yang membentangkan dinamika sosio-kultural bangsa Indonesia dalam bingkai perpsektif perjalanan berkebudayaan seorang penyair bernama: Taufiq Ismail.

Secara ringkas, dapat dipaparkan di sini isi keempat jilid itu.

Jilid 1 menghimpun puisi-puisi Taufiq Ismail yang dihasilkan selama 55 tahun kiprah

kepenyairannya (1953—2008). Jilid 2 berisi 193 esai –dan beberapa puisi—yang pernah dipublikasikan dalam rentang waktu 1960—2008. Data kuantitatif itu memperlihatkan gagasan Taufiq Ismail yang bermuara pada kehidupan kebudayaan Indonesia. Jilid 3 berisi Himpunan Tulisan dalam rentang waktu yang sama dengan jilid 2 (1960—2008) tetapi dengan tema yang beragam. Jilid 4 memuat Himpunan Lirik Lagu (1972—2008) yang dibawakan grup musik Bimbo, God Bless, Ucok Harahap, Chryse, Niki Astria sampai ke Armand Maulana.

Dalam Kata Pengantar, Taufiq Ismail mengatakan: “Panjang Kali boleh Diukur, Panjang Sajadah Siapa dapat Menduga” mengungkapkan sisi lain dari sebuah proses kreatif. Itulah yang kerap diistilahkan para penyair sebagai “wahyu” atau yang diyakini para penulis sebagai “tangan malaikat”.

Perkara Penerjemahan

Sebuah mahakarya lainnya yang dihasilkan Taufiq Ismail adalah penerjemahan puisi-

puisinya dalam puluhan bahasa daerah dan 11 bahasa asing (Arab, Belanda, Bosnia, Cina, Inggris, Jepang, Jerman, Korea, Parsi, Perancis, Rusia). Dengan kesadaran bahwa penting artinya memperkenalkan khazanah sastra Indonesia ke bahasa-bahasa dunia, Taufiq Ismail melakukan semacam safari ke negara-negara tersebut—kecuali ke Iran dan Cina—, lalu meluncurkan dan mendiskusikannya dengan para mahasiswa asing. Langkah itu diharapkan dapat menarik masyarakat dunia untuk mempelajari karya-karya sastrawan Indonesia lain.

Selama ini upaya memperkenalkan kebudayaan Indonesia dalam gerakan diplomasi

budaya kerap dilakukan melalui kesenian berupa pentas tari atau pameran benda-benda budaya. Langkah itu tentu saja penting. Tetapi, tidak berarti kegiatan penerjemahan itu tidak penting. Penerjemahan buku, terutama karya sastra selama ini cenderung dilakukan orang per orang. Akibatnya, masyarakat dunia kurang mengenal khazanah sastra Indonesia yang sesungguhnya kaya dengan berbagai ragam tema dan latar belakang kultur etnik. Oleh karena itu, upaya yang dilakukan Taufiq Ismail dengan insiatif dan biaya sendiri menerjemahkan sejumlah puisinya dalam 11 bahasa asing merupakan langkah besar yang mestinya menjadi tanggung jawab negara. Bukankah langkah yang dilakukan Taufiq Ismail dapat juga dimaknai sebagai pintu masuk memperkenalkan khazanah sastra Indonesia kepada masyarakat dunia?

Sebuah mahakarya lagi patut disinggung di sini adalah buku berjudul Rerumputan Dedaunan (Laporan Kerja Taufiq Ismail, 2010, 2017)* yang berisi puisi hasil terjemahannya sendiri karya 160 penyair Amerika dan 27 puisi lisan dan lagu rakyat (Amerika) dalam rentang waktu 130 tahun. Jumlah keseluruhan puisi yang diterjemahkan Taufiq Ismail 531 puisi karya 157 penyair ditambah dengan empat puisi rakyat. Hasilnya adalah buku setebal 893 halaman. Tetapi, kembali tebal-tipisnya buku kadang tidak menjamin kualitas buku yang bersangkutan. Untunglah, Taufiq Ismail sendiri sebagai penerjemahnya adalah penyair andal. Maka, menikmati puisi-puisi yang terdapat dalam buku itu, nyaris tidak ada kesan sebagai karya terjemahan. Kita dibawa ke sebuah dunia nun jauh di sana, tetapi rasanya begitu dekat dengan kehidupan kita sendiri.

Bagi saya, buku Rerumputan Dedaunan sungguh merupakan sumbangan besar bagi bangsa Indonesia, khususnya para penyair dan sastrawan kita untuk meluaskan cakerawala wawasan dan untuk mengetahui model estetik yang ditawarkan para penyair dunia. Sejauh pengamatan, Rerumputan Dedaunan merupakan satu-satunya buku terjemahan puisi-puisi Amerika yang paling lengkap. Ia juga merupakan salah satu buku terjemahan puisi terbaik yang pernah diterbitkan di negeri ini.

Kembali sebagai Manusia

Jika menelusuri kiprah Taufiq Ismail sepanjang hidupnya, rasanya kita (: saya) belum melakukan apa-apa untuk negeri ini. Yang dilakukan Taufiq Ismail adalah representasi kecintaannya pada puisi, pada Indonesia. Maka, “Dengan Puisi Aku” adalah jalan hidupnya yang dapat kita gunakan sebagai anutan, sebagai contoh, sebagai cermin. Cintailah profesi apa pun yang memberi pencerahan bagi masyarakat sekitar, bangsa, dan umat manusia! Pilihan puisi bagi Taufiq Ismail datang dari sebuah mimpi anak muda yang membayangkan dirinya duduk menulis puisi sambil memandang padang rumput yang luas. Kejarlah mimpi itu dan sebarkan untuk memberi pencerahan pada umat manusia.

Meskipun demikian, jangan kaget pula kita. Ketika kita jumpa dan mengobrol dengan Taufiq Ismail sebagai guru bangsa yang (luar biasa) hebatnya ini, kita akan berjumpa dengan sosok manusia yang (luar biasa) pula rendah hatinya. Boleh jadi pernyataan ini tampak hiperbolis, tetapi itulah kesan yang kerap muncul jika berkesempatan mengobrol atau berdiskusi dengannya. Ia pendengar yang baik, senantiasa hormat pada mitra bicaranya, dan nyaris tak pernah terdengar kata-kata umpatan. Itulah sastrawan besar yang selalu tampil sebagai manusia rendah hati, tawadu, dan istiqomah!

Dalam sebuah kesempatan, saya solat magrib berjamaah di Rumah Horison. Pak Taufiq Ismail menjadi imam, saya dan beberapa teman sastrawan menjadi makmumnya. Dalam dua rakaat pertama saat membaca Alfatihah dan sebuah surat pendek, kami (: saya) tak kuasa menahan tangis. Sang Imam—Taufiq Ismail—membawa kami ke sebuah suasana, bahwa kami—manusia—sungguh sebagai makhluk yang tiada artinya di depan Allah SWT. Allahu Akbar! Jika mengingat peristiwa itu, entah mengapa, air mata kerap menetes. Ya, di hadapan Tuhan memang kita tidak ada apa-apanya, bukan pula siapa-siapa.

Terima kasih Pak Taufiq Ismail telah mengajari saya mutiara hidup: bagaimana menjadi manusia rendah hati. Insya Allah, ilmu padi itu akan saya bawa sampai akhir hayat!


Footnotes:

* Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) adalah bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan mahasiswa dan pelajar yang mendesak pemerintahan Soekarno agar segera (1) membubarkan Partai Komunis Indonesia, (2) menurunkan harga-harga yang melambung tinggi, dan (3) membubarkan dan mengganti menteri-menteri cabinet. Desakan ini dikenal dengan kalimat: Retool Kabinet 100 Menteri.

* Cerita ini disampaikan lagi dalam sebuah pertemuan dengan para mahasiswa dan lebih dari 100-an Tenaga Kerja Indonesia di Ansan, Korea, 21 Oktober 2017.

* Ernest Ulrich Krazt, Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1988, hlm. 236—238.

* Buku ini sedianya akan diterbitkan dan didistribusikan ke berbagai perpustakaan penting di Indonesia, sehingga masyarakat umum dapat mempelajari khazanah sastra Amerika dalam terjemahan bahasa Indonesia. Tetapi karena persoalan penerjemahan ini berkaitan dengan hak cipta (copy right) dan royalti, dan royalty untuk satu puisi itu saja biayanya mencapai puluhan juta, maka buku itu dikatakan sebagai Sebuah Laporan Kerja.


Ingin berlangganan artikel? Isi kolom berikut ini (gratis).


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
[contact-form-7 404 "Not Found"]